Kilas Balik dan Konsistensi

Enam

Sekali-kali, nulis dalam bahasa Indonesia, ah. Biar ngegampangin yang baca… dan yang nulis (hehe). Okay, jadi post ini adalah tentang kilas balik. Apa yang pertama kali terbayang ketika kita mendengar kata kilas balik? Film-film anime jaman dulu yang ketika udah mau klimaks, langsung berubah scene jadi masa lalu hingga akhir episode? Well, no. Nggak begitu juga. Kilas balik yang akan saya bahas disini lebih ke pribadi saya, bagaimana saya menanggapi sesuatu dari waktu ke waktu.

Setiap hari, kita tentunya sering berbicara atau melakukan bentuk komunikasi lainnya kepada orang lain. Mungkin kita pernah berbicara mengenai sesuatu kepada orang lain, seperti, “Saya tidak suka apabila Anda begini-begini-begini”. Tetapi, apakah kita pernah mengingat kalimat-kalimat yang pernah kita ucapkan sebelumnya? Apakah kita pernah tanpa sadar menjilat ludah sendiri? Saya pernah, dan itu cukup pahit (makna sebenarnya dan tidak sebenarnya). Kalau tidak salah, pada suatu waktu saya pernah berkata kalau saya tidak menyukai sesuatu, tetapi di masa depan saya melakukan hal yang tidak saya sukai tersebut. Secara tidak sadar. Feels bad man.

flashback2bclock
Ilustrasi Kilas Balik

Sejak saat itu (yang entah kapan), saya mulai berhati-hati. Saya mulai memikirkan kata-kata yang akan saya ucapkan/ketikkan dan aksi-aksi yang akan saya lakukan. Saya terus melakukan kilas balik terhadap memori yang terpencar-pencar di dalam otak saya. Apakah saya pernah melakukan atau mengatakan hal yang terkait sesuatu yang akan saya lakukan/ucapkan? Apakah aksi atau ucapan saya beberapa detik kemudian berlawanan dengan apa yang telah saya lakukan sebelumnya? Berhati-hati. Saya tidak suka menjadi orang yang inkonsisten. Apabila saya telah melakukan A, saya akan terus melakukan A hingga saya tahu kalau A itu ternyata salah. Apabila saya tidak ingin melakukan A, maka saya tidak akan melakukannya hingga saya tahu kalau A itu ternyata benar. Jangan sampai kita terkadang membolehkan A, terkadang tidak, tanpa alasan yang jelas. Nanti orang bingung, harus bagaimana menghadapi kita. Hidup udah susah, jangan dibikin tambah susah dengan bikin orang pusing.

Konsisten. Kalau kata Arsene Wenger di salah satu quotenya, “When you look at people who are successful, you will find that they aren’t the people who are motivated, but have consistency in their motivation”. Kuncinya di konsisten. Orang bisa sukses di karirnya karena konsisten. Kita bisa hidup bahagia juga kalau konsisten. Kita bisa membahagiakan orang (dan nggak bikin susah orang) juga kalau konsisten.

aaeaaqaaaaaaaaoraaaajdvmnjlinjvilwq0ztctndg4ys04ndewlwu1mmjky2fjmwq3ma
Konsistensi adalah Kunci

 

Maka dari itu, yuk, umumnya kepada pembaca dan khususnya kepada diri saya sendiri untuk senantiasa konsisten dalam kehidupan kita, yang tentunya konsisten dalam hal yang baik-baik. Kalau hal yang buruk-buruk, dihentikan dulu konsistensinya lalu perlahan-lahan diganti dengan hal yang baik, baru dilanjutkan kembali. Niscaya hidup kita akan lebih bermakna baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Jangan sampai kita bikin orang kesal dengan ketidak-konsistensian kita :)

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s