Seimbang

Tujuh

Post ini akan saya utamakan untuk saya sendiri yang saat ini, masih dalam mencari bagaimana untuk melakukan konsistensi (seperti yang telah saya bicarakan pada post sebelumnya) dalam menyeimbangkan segalanya dalam hidup. Seimbang dalam jasmani-rohani, seimbang dalam memberi-menerima, seimbang dalam mendengar-mengucap, seimbang dalam berpikir-beraksi, dan lain-lain.

1
The Scales of the Sands

Ketika kecil, mungkin beberapa dari kita ada yang diajarkan untuk mengendarai sepeda. Ada yang langsung dengan roda dua, atau ada yang masih roda empat. Sepeda roda empat dapat seimbang karena terdapat dua roda penopang tambahan di bagian belakang sepeda. Dua benda tersebut tidak dimiliki oleh sepeda roda dua. Berkali-kali mencoba, berkali-kali jatuh. Akhirnya, kita mengetahui bahwa untuk tetap dapat menjaga keseimbangan ketika mengendarai sepeda, kita harus tetap bergerak untuk menggantikan alat bantu yang ada pada sepeda roda empat. Dari analogi ini, saya belajar kalau kita dapat seimbang apabila ada penopang (orang yang mengingatkan kita) atau ada pergerakan yang konstan dari kita untuk selalu maju ke depan, untuk selalu belajar, untuk selalu berkembang. Dengan terus bergerak, kita akan selalu belajar untuk melihat hal-hal baru yang belum pernah kita lihat atau rasakan sebelumnya. Apabila kita diam, kita akan lebih mudah goyah karena efek lingkungan, seperti permukaan yang tidak datar, efek angin, dan lain sebagainya. Apabila di dunia nyata kita terlalu lama berdiam diri (tidak melakukan apa-apa), kita akan mudah digoyahkan oleh orang dan lingkungan, karena kita tidak mengikuti perubahan yang selalu bergerak seiring berjalannya waktu. Layaknya belajar mengendarai sepeda, pasti ada suatu momen “jatuh” yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita pada awalnya.

boy-riding-bicycle
Sepeda (dengan orangnya)

Terkadang kita meluangkan waktu untuk sesuatu lebih lama dari yang seharusnya, sehingga waktu kita untuk hal lain menjadi habis. Terkadang kita terlalu banyak berbicara, sehingga waktu kita untuk mendengarkan menjadi habis. Terkadang kita terlalu memikirkan orang lain, sehingga kita lupa memikirkan diri sendiri. Hal-hal tersebut adalah momen “jatuh” yang harus dapat kita manfaatkan. Dengan kita menyadari bahwa pada suatu waktu kita tidak seimbang, maka pada kesempatan berikutnya, kita harus berusaha lebih baik. Ketahui mengapa sebabnya, cari solusinya, dan terapkan solusi tersebut pada kesempatan berikutnya. Terus bergerak kedepan.

Sulit, tentu. Hingga saat ini, saya belum dapat menerapkan keseimbangan ini dengan baik. Masih banyak hal-hal yang terlalu condong ke satu aspek, dengan aspek-aspek yang lain ketinggalan. Tetapi, saya berharap agar saya dapat terus bergerak kedepan agar keseimbangan saya tetap terjaga, baik itu dengan diri saya sendiri atau dengan bantuan topangan orang lain.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s