Machinima: Tales of the Past

Sembilan

“Seems like nowadays everyone chooses fear, hatred, vengeance, even me. You taught me to forgive, you taught me something more than just to hate… and I forgot. I don’t know how and I don’t know when, but I forgot… and I failed you, Yimo. I failed you.”

“You see the sunset, Blazer? It always reminds me of what we’re fighting for. It reminds me of the dark times that will come. But it also reminds me that as long we fight this darkness together, then the light will return and a new day will come again. Never forget this.”

Tulisan kali ini dibuka dengan dua buah quote dari suatu film Machinima, yang kata Wikipedia adalah suatu metode untuk membuat sebuah film berbasis grafik dari suatu game. Pada post kali ini, saya akan bercerita tentang salah satu film Machinima dari game World of Warcraft, salah satu game yang juga sudah menemani saya dari tahun 2008.

Seperti lore dari gamenya, World of Warcraft memiliki dua faksi, yaitu Alliance dan Horde. Plot dari film ini adalah kedua faksi yang pada awalnya dalam kondisi damai berubah menjadi kondisi dalam perang karena aksi dari Conrad Schultz dari Alliance, yang memecahkan perdamaian tersebut dengan menyerang teritori dari Horde. Salah satu karakter-karakter utama dari film ini adalah Yimo, konsultan sejak perang ketiga antara Horde dan Alliance. Berkat Yimo, setelah perang ketiga tersebut, tidak ada lagi baku hantam antara kedua faksi. Akan tetapi, aksi Schultz merusak segalanya. Yimo menduga bahwa ada sesuatu yang menyebabkan petinggi-petinggi Alliance untuk berbuat demikian. Kecurigaan Yimo membuat Eden Aurorae diblacklist dari Alliance, dengan larangan memasuki kota-kota besar. Praktis cara untuk mengetahui penyebab perubahan sifat Schultz semakin sempit dengan berkurangnya akses ke kota-kota tersebut.

Sebagian kecil dari Eden Aurorae masih mau membantu Yimo dan salah satu karakter utama lainnya, Blazer, untuk mencari akar utama dari masalah tersebut. Mereka berdua menyelinap ke Stormwind saat kota tersebut sedang mengadakan pesta atas kemenangan dari serangan ke suatu teritori dari Horde. Yimo bertemu dengan salah satu temannya, Thainor, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya menyebabkan kekacauan tersebut. Thainor memberi tahu bahwa ada sebuah buku di perpustakaan yang terletak di kastil Stormwind yang memanipulasi orang-orang di sekitarnya untuk berpikiran negatif. Buku tersebut adalah penyebab dari kekacauan-kekacauan, termasuk perubahan sifat dari Conrad Schultz. Sedikit yang Yimo tahu bahwa Thainor tidak berniat untuk membantu Yimo, namun untuk membantu rencana dari “tuan”nya.

Yimo dan Blazer menyelinap ke perpustakaan untuk mencuri buku tersebut. Setelah kepergok oleh penjaga-penjaga kastil, mereka berdua kabur dengan teleport dari Yimo. Mereka selamat dari  penjaga kastil, tetapi mereka bertemu mayat-mayat hidup yang biasa disebut Undead. Setelah bertarung dengan keras dan hampir kalah, ada bala bantuan dari Horde untuk menyelamatkan Yimo dan Blazer. Ternyata, pemimpin dari pasukan tersebut adalah adik dari pemimpin pasukan Horde yang dibunuh oleh Schultz beberapa waktu sebelumnya. Dia pun ingin mengetahui apa penyebab dibalik hal ini. Mereka berhasil menyelamatkan diri dan menarik nafas sementara.

Penelusuran terus dicari, hingga pada suatu ketika, dalang dari seluruh itu diketahui, yaitu Arthas, sang Lich King. Yimo bertemu dengan dia di dalam mimpinya. Arthas memberi tahu Yimo bahwa buku yang ia curi bukanlah buku biasa. Buku itu dapat terisi energinya apabila ada seseorang yang berdedikasi untuk berbuat baik. Perbuatan tersebut direfleksikan Yimo karena ia selalu ingin untuk membantu teman-temannya, termasuk menyelamatkan teman-temannya dari pasukan-pasukan Undead yang berada di bawah kendali Lich King, atau biasa disebut Undead Scourge. Yimo memutuskan untuk mengorbankan dirinya sendiri sehingga buku tersebut tidak akan penuh energinya, karena dengan dia mengorbankan dirinya sendiri, tidak akan ada energi yang mengalir ke buku tersebut. Perbuatan Yimo ini disadari oleh kedua faksi dan akhirnya kedua faksi sadar dan ada satu musuh yang utama, yaitu Undead Scourge. Buku dipindahtangankan ke Alliance dan diletakkan di Ironforge, kota Dwarf dan Gnome.

Blazer, masih sakit hati karena kehilangan teman baiknya, memutuskan untuk pergi ke benua Northrend untuk menghadapi Darion Mograine, seorang Undead Death Knight yang memiliki kunci untuk menyelamatkan dunia, terlebih lagi untuknya, mengembalikan Yimo ke kehidupan. Perjalanannya tidak mulus. Ia kehilangan pasukan-pasukannya karena sifat temperamennya. Di akhir perjalanannya, ia mencapai suatu daerah bersalju dan bertemu dengan Darion. Blazer berhasil “membunuh” Darion dengan bantuan sihir heal dari Leanna, tetapi seluruh pasukannya tewas dalam pertempuran, termasuk Leanna.

Blazer menyesali perbuatannya. Lalu, Darion, yang berkat sihir heal dari Leanna, kembali “hidup” dan mengajak Blazer untuk berlatih sehingga ia dapat menyelamatkan dunia ini dari Lich King. Blazer menerima tawaran tersebut. Di sisi lain, Ironforge diserang dan buku tersebut hampir dicuri. Jaina Proudmoore, berhasil menyelamatkan buku tersebut dari genggaman salah satu pasukan Undead Scourge. Tanpa disadari, Jaina melengkapi kebutuhan energi tersebut untuk mencapai potensi maksimalnya, karena ia memiliki niat untuk menyelamatkan dunia ketika ia merebut buku tersebut. Karena kondisi Ironforge sudah tidak aman dari segi pasukan dan bangunan untuk pertahanan, diputuskan untuk memobilisasi buku tersebut ke Orgrimmar, kota Orc.

Latihan Blazer bersama Mograine terus berlangsung. Ketika latihan Blazer mencapai klimaks dan dia berada di ujung tanduk, terdapat sebuah momen kilas balik yang berisi dua quote yang ada di awal post ini. Setelah itu, Blazer menjadi bersemangat kembali dan berhasil mematahkan segala tantangan-tantangan yang diberikan oleh Mograine. Di sisi lain, Horde dan Alliance menggabungkan pasukannya untuk membantu mobilisasi buku dari Ironforge ke Orgrimmar, tetapi pasukan Undead Scourge lebih tangguh dan buku itu berhasil direbut dan berpindah tangan ke Undead Scourge. Alliance dan Horde tidak patah semangat. Mereka merencanakan penyerangan ke titik krusial Undead Scourge yang dapat membuka akses ke tempat pelaksanaan ritual dengan buku tersebut. Pada saat yang sama, Blazer berhasil menyelesaikan latihannya dengan Darion. Tokoh-tokoh penting dari Alliance dan Horde sudah berhasil masuk ke tempat pelaksanaan ritual dan membunuh pion-pion dari Lich King, tetapi ritual tersebut sudah berlangsung dan tidak dapat dihentikan dengan mudah. Setelah pion-pionnya tewas dibunuh, Lich King muncul dan mencegah tokoh-tokoh tersebut (Jaina, Thrall, dan Saurfang) dari membatalkan ritual tersebut.

Blazer, yang baru saja menyelesaikan pelatihannya, datang untuk membantu mereka dan setelah pertarungan yang berlangsung lama, dibantu oleh Jaina, Thrall, dan Saurfang, berhasil mengalahkan Lich King. Akan tetapi, ritual tersebut sudah hampir selesai. Blazer memutuskan untuk mengorbankan dirinya sendiri untuk menghancurkan buku tersebut dengan memfokuskan kekuatannya untuk menampung ledakan yang dihasilkan oleh buku tersebut, sehingga dunia ini tidak hancur. Ketika Blazer maju untuk melakukan hal tersebut, “arwah” Yimo muncul di sampingnya dan berkata, “Hey, Blazer. What took you so long?“. Sehingga dengan demikian, dunia berhasil diselamatkan dengan pengorbanan seseorang.

Saya suka dengan cerita ini karena banyak hikmah-hikmah yang bisa diambil. Pengorbanan seseorang bisa sangat berarti. Ditambah lagi dengan dua quote yang menurut saya sangat dapat diaplikasikan di kehidupan ini.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s