Evaluasi dan Refleksi

Sebelas

Ketika saya kecil hingga SMP, saya tidak mengenal evaluasi dan refleksi. Atau paling tidak, belum menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan saya, baik sekolah, maupun keluarga, tidak terlalu mendukung untuk penerapan kedua aksi tersebut. Lagi-lagi, tidak bosan-bosan saya katakan, dunia game mengubah kehidupan saya. Saya berani berkata demikian karena saya menjadi diri saya yang sekarang karena dunia game yang saya geluti dari awal SMP hingga saat ini.

Saya masih ingat ketika saya dulu pertama kali mengenal game, yaitu waktu TK, masih zaman-zamannya Playstation 1 masih barang mewah. Saya hanya menonton kedua kakak saya memainkan game Lunar 2: Eternal Blue. Pada akhirnya ketika saya kelas 3 SD, saya mulai mencoba main Counter Strike. Waktu itu seringnya pakai cheat aim, supaya nge-kill banyak, padahal nembaknya ngasal. Cara mainnya, ngikutin apa yang disuruh kakak saya yang kedua. Apapun yang dia bilang, saya turutin, termasuk di game-game lainnya, seperti Red Alert dan Warcraft. Selain di dunia game pun begitu. Tatkala masih SD dulu, seringkali pertanyaan saya di kelas ke guru yang mengajar dijawab “pokoknya begitu”, sehingga mau tidak mau saya harus menurut. Di lingkungan keluarga, seringkali pertanyaan adalah salah satu bentuk dari melawan yang lebih tua. Saya sulit berkembang.

Bagaimana dunia game, terutama internet mengubah cara berpikir saya? Ketika saya kelas 1 SMP, saya masih ingat, waktu itu baru saja selesai upacara 17 Agustusan. Setelah itu, teman saya mengajak saya untuk main ke warnet dekat sekolah, entah waktu itu main CS atau Dota. Hari demi hari, saya semakin senang untuk main di warnet tersebut. Biasanya setiap hari saya setelah pulang sekolah main paling tidak sekitar satu jam di warnet itu. Untuk hari yang pulangnya cepat (waktu itu hari Sabtu masih masuk tapi hanya kegiatan ekskul saja), saya beli paket 3 jam biar lebih hemat. Saya hanya bermain LAN dengan orang-orang yang ada di warnet itu, hingga akhirnya saya dikenalkan dengan Battle-Net di Warcraft III oleh teman saya. Katanya, ada server Indonesia buat Battle-Net, namanya Indogamers. Ah, memori masa lalu. Lantas saya mencoba kombinasi seluruh nickname-nickname yang saya suka, tetapi nihil. Keluaran dari form in-gamenya selalu mengatakan bahwa nickname sudah ada dan saya harus memilih yang lain. Dalam keputusasaan, saya mengetik sesuatu random, sudah tidak berharap apa-apa. Waktu itu, terketiknya “illllll” (I satu kali dan L 6 kali). Singkat cerita, saya masuk ke dunia internet gamers Indonesia yang belum pernah saya jelajahi sama sekali waktu itu. Seiring berjalannya waktu dan tentunya sering kalah ketika bermain, saya penasaran, kenapa saya bisa kalah. Saat itu, saya sudah tidak dalam “belenggu” kakak saya lagi. Saya mencari-cari guide terkait permainan Dota tersebut. Saya dulu sempat aktif di http://www.dotastrategy.com (sekarang sepertinya sudah tidak ada), itu adalah semacam forum dan saya sering bertanya dan memberikan ide-ide disana. Saya belajar bagaimana caranya untuk memberikan dan menerima masukan.

bnet-chat-sc2
Tampilan Chat Channel Battle-Net

Waktu dulu saya masih SMP, saya sangat fluktuaktif. Labil banget, kalau saya melihat ke belakang. Kalau misalnya ada apa-apa, langsung ketik dengan caps lock di in-game. Ada seorang teman saya, yang waktu itu secara jabatan, clan leader. Dia berkata ke saya, “Kalau misalnya lw kayak begini terus, nanti lama-lama nggak bakal ada yang mau main sama lw atau bahkan keluar dari clan ini karena takut dimarahin lw“. That one hit hard on me. Saya perlahan-lahan mulai mengontrol diri sejak itu. Ditengah-tengah kesenangan bermain Dota, saya menemukan game lain yang juga ada servernya di Indogamers, yaitu World of Warcraft. Saya mengajak beberapa teman-teman saya yang main Dota untuk main game itu juga bersama kakak saya. Akhirnya, ada game lain yang dapat menghubungkan kita selain Dota. In the meantime, waktu itu di server game Warcraft Indogamers Junior (sekarang sudah tidak ada), ada 2 jabatan di bawah administrator, yaitu operator (OP) dan voice-operator (vOP). Tujuannya adalah untuk menjaga kenyamanan server dengan memberikan status ban atau warning kepada orang-orang yang melanggar aturan-aturan server, seperti keluar game sebelum selesai, contohnya. Saya waktu itu mencoba “melamar” menjadi vOP (urutannya harus jadi vOP dulu sebelum jadi OP). Udah kayak kerja aja, ada lamarannya. Tetapi, iya. Awalnya saya pikir jadi vOP dan OP itu mostly senang-senang, ternyata tidak juga. Saya ingat ketika saya diwawancara vOP waktu itu ditanya oleh OPnya, “Ji, lw kan sering marah-marah tuh, ntar kalo misalnya lw lagi main trus lagi kalah dan ada user yang ngelapor ban ke lw gimana? Lw bakal marah-marahin dia?” Ya, memang waktu itu sifat labil saya sudah lumayan “terkenal” ke orang-orang yang dekat dengan saya di server tersebut, termasuk OP-OP yang mewawancarai saya waktu itu. Singkat cerita, saya lolos jadi vOP, dan ketika masuk channel, urutannya di paling atas gitu deh. Jadi, kalau online terus masuk ke channel publik, biasanya langsung ada user yang ngomong, “Wew, ada kk vOP” atau sejenisnya. Main pun nggak setenang sebelumnya. Lagi di dalem permainan tiba-tiba ada yang lapor leaver atau ruiner, di satu sisi ingin tetap main, tapi di satu sisi lain ya karena udah jadi vOP, tanggung jawab atuh mz. Tetapi, saya bener-bener belajar tanggung jawab dari menjabat sebagai vOP dan OP (naik pangkat sekitar 1-2 bulan setelah menjabat sebagai vOP), walaupun hanya di dunia game dan waktu itu masih bocah SMP lugu.

Itu baru pembukaan mengenai dunia game di masa kecil saya. Terus apa hubungannya sama judulnya, evaluasi dan refleksi? Saya mempelajarinya di game World of Warcraft, waktu itu juga masih main di Indogamers. Masih sama kayak sekarang, saya dulu orangnya PvP (player vs player) oriented, sehingga saya punya “tim” sendiri, yang isinya juga teman-teman Dota saya sebenarnya. Dulu waktu main World of Warcraft awal-awal juga masih labil, sih. Saya ingat, dulu saya pernah marah ke teman saya karena kami kalah terus, tetapi tidak ada solusi berarti. Dengan setiap detik yang berlalu, saya merasa bersalah, lalu saya berbicara ke dia (lewat chat) untuk menghadapi masalah tentang kalah-kalah terus ini dan membuat solusinya. Dia bisa diajak kompromi. Maka dari itu, kami berdua setelah selesai suatu pertandingan arena sering ngobrol sesaat terkait what went wrong, what could be improved, dan lain sebagainya sebelum masuk ke pertandingan berikutnya. Saya belajar bagaimana untuk memperbaiki diri sendiri.

skype-logo-open-graph
Raksasa Komunikasi (dulunya)

Komunikasi semakin mudah dengan waktu itu, kami menemukan sebuah software namanya Skype. Wah, baru kelas 3 SMP udah pakai Skype aja, gaul amat. Ya… iya. Pada waktu itu, media komunikasi yang reliable literally cuma Skype, walaupun berat, dari segi penggunaan memori dan bandwidth. Bagaimana tidak, chat bisa, voice chat bisa, video call juga bisa. Kurang apa? Anyway, pertama kalinya waktu itu saya mendengar suara orang-orang yang sudah saya kenal lama di dunia maya. Awalnya kagok, tapi lama-lama jadi biasa juga, sih. Dari yang awalnya cuma lewat chat aja– yang tidak tahu bagaimana tone intonasi suara teman-teman saya– waktu itu jadi tahu. Saya harus lebih dewasa– atau mungkin lebih tepatnya dipaksa dewasa– dalam bersikap dan bertutur kata supaya tidak mengatakan hal-hal yang menyakiti teman-teman saya. Saya belajar kalau berkomunikasi itu harus hati-hati, mulai dari pemilihan diksi dan intonasi.

Walaupun tindakan evaluasi dan refleksi ini muncul pada game World of Warcraft, puncaknya adalah pada game Dota 2, zaman-zaman tim saya sangat tryhard untuk mengikuti dan memenangkan kompetisi baik itu online atau offline. Setiap game, baik menang maupun kalah, saya selalu melihat replay (reka ulang) game tersebut untuk memperbaiki kualitas permainan saya pada khususnya dan tim saya pada umumnya. Maka dari itu, jangan bosan ya kalau misalnya saya suka mengevaluasi hal-hal yang mungkin bagi kamu tidak perlu dievaluasi, karena sudah mendarah daging bagi saya untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya. I really love being in a competition.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s