Belajar Bilang Tidak

Dua Belas

Wah, sudah hari ke-12. Karena kejadian-kejadian yang terjadi disekitar saya akhir-akhir ini cukup banyak yang merugikan saya, cukup mudah untuk memilih judul post ini. Ya, belajar bilang tidak! Kenapa? Terkadang, kita merasa “nggak enakan” kalau misalnya kita bilang kata “tidak”. Padahal, itu hak kita. Kalau itu bukan hak kita, tetapi kewajiban, kita tidak perlu ditanya yang demikian. Cuma ada satu opsi, yaitu “ya”. Apabila kita memilih “tidak”, konsekuensinya akan lebih dari sekedar konsekuensi sosial. Pada post ini, saya akan memfokuskan pada “tidak” yang terkait dengan hak kita. Sesaat setelah saya menemukan judul post ini, saya teringat salah satu video streamer game yang saya sukai, yaitu Jason “Amaz” Chan.

Jadi, video ini direkam oleh suatu akun Youtube yang memang “jobdesc”nya adalah merekam kejadian-kejadian unik dari para streamer. Di dalam video ini, Amaz terlihat sedang berkontemplasi ketika streamnya sudah akan selesai dengan user-user yang ada di chat streamnya.

“You gotta love yourself. Many people forget to love themselves sometimes. Just like… work too hard for other people or having a messy room. I don’t know, just clean your room, and you will feel better afterwards. Positive reinforcement.”

Dalam video tersebut, Amaz memberikan nasihat bagi kita agar tetap mencintai diri kita sendiri. Jangan sampai kita bekerja terlalu keras untuk orang lain sehingga kita lupa terhadap kesehatan jasmani atau rohani kita. Dengan mencintai diri kita sendiri, niscaya jasmani dan rohani kita akan senantiasa sehat. Contoh yang ia berikan dalam kutipan tersebut adalah merapikan kamar yang berantakan (buat anak kosan nih biasanya), kalau kamar berantakan atau kotor, pasti suka merasa nggak enak gitu, kan? To some extent, mungkin yang alergi debu bakal bersin-bersin. Dengan membersihkan dan merapikan kamar kita, kamar kita akan menjadi lebih nyaman dan kesehatan tubuh kita juga akan tetap terjaga.

“Remember to not go insane. I think it’s a very good advice for everybody. A lot of people forget that humans can go insane. You gotta retain your sanity. I have nearly gotten insane a lot of times. It’s funny because sanity is such an important resource that people fail to remember. If you say ‘yes’ to a lot of things, you have to pay with sanity, right? You have to pay with… something. For example, if someone gives you a lamp for free, and you bring it home. You actually didn’t get that for free, because it costs you space. And if you take more lamps, your house will have no more space. There is no free things in the world, every thing has a cost.

Setelah kutipan sebelumnya, Amaz juga bercerita bahwa kita harus menjaga akal sehat kita. Banyak orang yang lupa kalau manusia itu bisa jadi gila. Kita harus ingat bahwa akal sehat adalah resource yang penting. Ketika kita berada dalam suatu tekanan yang sangat tinggi dan dalam jangka waktu yang singkat, kita akan merasa overwhelmed. Penting bagi kita untuk tidak berada dalam situasi tersebut. Ketika sudah berada di dalamnya, kita hanya dapat deal with it. Tetapi, kita dapat berulangnya hal tersebut di masa depan dengan berkata “tidak”. Amaz memberikan contoh kalau kita menerima lampu secara cuma-cuma di jalan. Apabila kita terus melakukan hal tersebut, maka suatu saat rumah kita akan penuh dan ruang yang ada untuk kita bersantai mungkin jadi tidak ada lagi. Saya melihat ini seperti sebuah kejadian ketika seseorang menawarkan suatu pekerjaan kepada orang lain. Apabila orang ini sangat ambisius, maka ia akan menerima tawaran tersebut tanpa melihat apakah ia masih memiliki pekerjaan-pekerjaan yang lain, sehingga pekerjaan yang baru saja ia terima dapat diselesaikan atau tidak. Dengan mengambil terlalu banyak pekerjaan/tanggung jawab, waktu dan energi dia akan terkuras habis hingga ia tidak menyisakan dua resource tersebut untuk dirinya sendiri.

“Because everything happens for a reason, right? I’m saying these things for a reason, too. If you can get behind the reasoning, it’s really good for you.”

Kutipan terakhir ini mungkin sudah sering kita dengar. Everything happens for a reason. Kejadian buruk yang menimpa kita bisa jadi adalah salah satu cara Tuhan mempersiapkan kita untuk menjadikan kita pribadi yang lebih kuat di masa depan. Bisa jadi apabila kita tidak pernah tertimpa kejadian buruk tersebut di masa lalu, kita tidak akan siap menghadapi kejadian serupa di masa depan, yang kita tidak tahu, mungkin jauh lebih besar dibandingkan itu.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s