Mencari Akar Permasalahan

Tiga Belas

Lihatlah peristiwa yang menimpa Sartika ini. Kalau orangtuanya tidak menelepon pengurus kos dari Tarutung, sang pengurus kos tidak tahu apa yang terjadi. Itu pun, pengurus kos tidak langsung datang. Ia menghubungi penghuni kos lain lewat chat LINE, agar mencek kamar Sartika. Gemblung sekali rasanya, teman-teman kosnya itu sama sekali tidak memperhatikan Sartika sudah tidak kelihatan 3 hari.

Berhubung hari ini saya sedang berusaha untuk memulihkan kondisi badan, jadi nulisnya dipercepat dulu. Beberapa waktu ke belakang saya dan teman-teman kisaran Bandung mungkin dikagetkan oleh berita meninggalnya seorang mahasiswi di kamar kosnya. Post di Facebook itu menjelaskan bagaimana teknologi dan lingkungan sosial menjadi penyebab mutlak atas kejadian yang menimpa mahasiswi tersebut. Penulis post tersebut berpendapat bahwa perkembangan teknologi dan interior kosan yang dicap “mewah” membuat seorang anak menjadi tertutup. Saya mencoba mengambil pendekatan lain.

Saya adalah seseorang yang lebih condong ke introvert. Ketika dulu saya awal masuk ITB, saya ngekos di Jalan Imam Bonjol, suatu daerah dekat Jalan Dipati Ukur. Di tempat tersebut, ada seseorang yang boleh dibilang “pengayom” dari kosan tersebut. Setiap penghuni kosan, ia ajak untuk berkumpul, sehingga setiap hari pasti ada saja interaksi. Itu yang penulis post Facebook di atas mau, bukan? Tapi, bukan yang saya mau. Bagi saya, ketika saya sudah berada di kosan, adalah hak saya untuk memiliki quality time sendiri tanpa interupsi siapapun. Hal ini tidak dapat saya rasakan di kosan tersebut. Setelah 3 bulan di kosan tersebut, saya merasa tidak nyaman, dan saya pindah akhirnya ke suatu kosan di Cisitu Lama yang hingga sekarang masih saya hinggapi tinggali. Mungkin banyak yang tidak seperti saya, yang senang berinteraksi dengan orang-orang di kosannya, akan tetapi, lagi-lagi, jangan samakan Anda dengan manusia yang lain. Anda dibesarkan berbeda, saya dibesarkan berbeda, orang-orang lain juga dibesarkan berbeda. Dengan kita memaksa seseorang yang ingin menyendiri ketika sudah berada di kosannya, kita sudah menerobos batas-batas yang sudah dia beri garis. Percaya tidak percaya, kalau seseorang diperlakukan demikian terus-menerus, suatu saat ia akan meledak.

Mahasiswa, anak-anak muda yang hidup kos di kota, sebenarnya kehilangan sesuatu. Kehilangan suasana dan perhatian keluarga. Ada rasa sepi, tidak bisa berbicara, atau curhat kepada keluarga.

Ketika saya pertama pindah ke kosan di Cisitu dan memasang internet sendiri, saya sudah tidak lagi merasakan kehilangan suasana dan perhatian keluarga, karena saya memiliki teman-teman di dunia maya (yang juga sudah banyak berjumpa di dunia nyata). Mereka adalah orang-orang yang memberikan impact paling besar terkait attitude dan personality saya. Oleh karena itu, saya sangat senang ketika saya berada di dalam kamar, berinteraksi dengan mereka. Rasanya ketika saya berinteraksi dengan mereka, rasa senang saya menutupi rasa lelah yang saya rasakan sebelum-sebelumnya. Bukan berarti saya tidak suka berinteraksi kepada orang-orang selain mereka, saya dulu juga cukup aktif di kampus, terutama di unit, dengan menjadi ketua di beberapa kepanitiaan dan ikut serta menjadi badan pengurus. Walaupun demikian, momen yang paling saya tunggu setiap hari setelah menyelesaikan kegiatan di kampus adalah pulang ke kosan. Saya tetap merasa teman-teman terdekat saya adalah mereka yang tidak terlihat oleh mata saya ketika saya berinteraksi dengan mereka.

Kenapa saya seperti ini? Terlalu teritorial, ingin eksklusif sendiri di kamar, dan lain sebagainya? Saya merasa kepribadian setiap orang saat ini adalah cerminan dirinya sendiri di masa lalu. Saya menjadi seperti ini karena saya dulu sering menyendiri di kamar setelah selesai pulang sekolah, berinteraksi dengan teman-teman dunia maya saya. Teman-teman setia yang tidak saya temui di lingkungan persekolahan. Tentu saja ada teman baik, tetapi rasa nyaman yang saya rasakan berbeda. Ketika saya SMP dan SMA dulu, senioritas adalah salah satu hal yang masih sangat maklum. Everyone took it for granted. Ketika teman-teman saya berdiam diri dibawah tekanan senior-senior (sebagian bahkan menjadi tangan kanan senior-senior tersebut), hanya saya yang berpikir dan berani melawan abuse kekuasaan tersebut. Bukannya mendapatkan support, tetapi saya malah dicaci teman-teman saya sendiri karena “memperburuk” keadaan. Di lingkungan keluarga, saya hanya dekat kepada ayah dan kakak saya yang kedua. Walaupun demikian, kedekatan tersebut belum membuat kami menjadi lebih terbuka dengan sesama. Saya lebih terbuka kepada teman-teman dunia maya saya. Ketika saya menghadapi senioritas tatkala SMA dulu, mereka adalah orang pertama yang saya ceritakan sebelum saya bercerita ke ayah saya. Apabila orang-orang terdekat saja belum bisa membuat seseorang terbuka, bagaimana dengan orang-orang yang tidak dekat?

Pertanyaan berikutnya, kenapa seseorang yang dekat masih bisa tidak membuat seseorang lebih terbuka? Ada banyak penyebabnya, salah satunya mungkin karena rasa kekecewaan yang terpendam dari masa lalu. Bisa jadi seseorang menjadi lebih tertutup karena ia merasa kalau ia menceritakan masalahnya kepada orang lain, justru respon negatiflah yang ia dapat (seperti diketawain atau dikritik tanpa solusi, misalnya). Hal tersebut terulang berkali-kali, hingga akhirnya ia merasa tidak ada gunanya ia berbagi cerita kepada orang lain. Berhubung saya tidak mengenal Sartika, saya tidak bisa berkata banyak. Saya hanya bisa berkata, berkaca dari pengalaman saya sendiri, lingkungan pendidikan dan keluarga sangat berpengaruh kepada kepribadian seseorang untuk lebih terbuka mengenai masalah yang dihadapinya.

Menurut saya, keberadaan teknologi bukan penyebab utama kasus Sartika ini. Sekalipun era smartphone belum masuk ke Indonesia saat ini, saya cukup yakin kejadian serupa akan tetap terjadi di masa yang akan datang karena setiap pihak bersikap tertutup, baik orang yang sedang berada dalam kondisi baik maupun dalam kondisi buruk. Orang-orang yang sedang berada dalam kondisi baik idealnya adalah tetap menanyakan orang yang mungkin mengalami masalah, tetapi tidak dilakukan karena mereka tidak tahu apakah orang tersebut membutuhkan mereka atau tidak. Di sisi lain, orang-orang yang sedang berada dalam kondisi buruk idealnya adalah berbagi cerita kepada orang yang sedang berada dalam kondisi baik, tetapi tidak dilakukan karena mereka merasa tidak ingin merepotkan orang lain. Jadinya deadlock, kan.

Sekarang ini, gaya hidup di tempat kos, terutama di tempat-tempat kos bagus di kota-kota besar, orang hidup sendiri-sendiri. Masing-masing hidup di kamar, berteman dengan gadget dan internetnya. Merasa tidak enak mencampuri urusan, atau mengganggu teman kos lain.

Percaya deh, walaupun misalnya kita belum menggunakan smartphone, kejadian ini bisa saja terjadi lagi, karena sifat individualis setiap orang yang menganggap “orang lain pasti bisadansendirian aja pasti bisa. Nggak perlu jauh-jauh, di kehidupan kuliah dulu aja kita sering kan melihat yang demikian. Apakah ketika menjelang ujian lalu teman kita kesulitan dalam belajar dan nggak kita bantu, itu salah teknologi? Nggak! Itu salah ketertutupan di lingkungan kita, entah 1) kita udah mencoba bantu mereka tapi mereka nggak mau, 2) kita nggak bantu mereka karena berasumsi mereka mampu sendiri, atau 3) karena merekanya nggak minta. Akar masalahnya adalah di ketertutupan seseorang. Maka dari itu, penting bagi kita untuk merajut masa depan yang penuh dengan keterbukaan antarsesama, supaya kita memang menjadi makhluk sosial yang memang sosial, bukan individualis. Ketika kita menyalahkan teknologi, berarti kita belum pandai dalam menggunakan teknologi tersebut. Kalau kita bikin presentasi pakai Powerpoint terus dinilai jelek sama yang lihat, terus kita nyalahin Powerpointnya padahal kita belum menggunakan aplikasi tersebut dengan optimal, berarti ada yang salah di dalam diri kita.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s