Pro Gamer atau Programmer

Tujuh Belas

Pada post yang bertopik cita-cita ini, saya pertama-tama akan mengutip salah satu tweet hari ini. Bukan tweet saya sih, tapi tweet orang lain.

Cita-cita ya, hmmm. Ini adalah pertanyaan template ketika kaderisasi dulu di kampus, entah itu di unit ataupun himpunan. Jawaban saya selalu sama. “Cita-cita mau jadi apa, Ji?”, kata temanku (yang waktu itu baru kenal). Aku menjawab, “Pro-gamer atau programmer. Little did I know, bahwa saya mengucapkan itu seenak jidat. Kalau saya bisa ke masa lalu, saya bakal ingatkan dia, “Kalau misalnya luh mau jadi pro-gamer, luh harus work hard from now on. Jangan males-malesan lagi nonton replay orang-orang jago dan terutama nonton replay luh sendiri buat evaluasi kesalahan-kesalahan atau pergerakan yang kurang optimal.”

Sejak saya kecil dulu, saya memang benci kekalahan. Akademik pun menjadi kompetisi bagi saya. Kalau kata opening theme song Pokémon, “I want to be the very best that no one ever was”. Sayang, saya mudah sombong dulu hingga SMA. Ketika saya belum menjadi yang terbaik di sekolah, saya berusaha untuk menjadi yang terbaik. Ketika saya sudah tiba-tiba menjadi yang terbaik, saya tidak menatap lebih jauh. Saya tidak melihat keatas. Saya hanya mempertahankan posisi nyaman saya saat itu (dengan tidak berbuat lebih). Ini adalah salah satu kesalahan terbesar dalam hidup saya. Hal ini terbukti ketika saya dulu disuruh ikut OSK Fisika waktu kelas 2 SMA. Ketika saya lolos OSK dan masuk ke tingkat provinsi, rasa bangga saya mengabutkan pikiran saya. Padahal, saya bukan apa-apa juga di tengah-tengah orang yang lolos OSK juga saat itu. Terutama di tengah dewa-dewa SMA 8. Instead, selepas hari pelatihan, saya bukannya memperdalam atau memahami apa yang dijelaskan oleh kakak yang mengajari kelas waktu itu, saya malah bermain di rumah seakan-akan tidak ada apa-apa. Little did I know, that was a chance in a lifetime. Maybe, my only chance. Saya pun mendapat hukumannya dengan tidak lolos ke tahap selanjutnya dan saya rasa itu adil untuk saya, karena saya sendiri lalai dalam berusaha. Sejak itu, saya sadar untuk tidak selalu puas di posisi saya, berapapun tingginya itu. Selalu ingin lebih, tetapi jangan lupa bersyukur.

Tidak hanya akademik, saya juga sangat-sangat-sangat kompetitif di dunia game. Saat kelas 1 SMP, saya diajak teman dan senior saya untuk ikut qualifier ESWC (Electronic Sports World Cup) di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta. Dan langsung dibantai sama lawan saat itu yang ternyata, mereka yang juara 1 kualifikasi tersebut dan lolos ke Paris. Jadi ya, nggak malu-malu banget. Walaupun demikian, setiap kali saya lewat Balai Sarbini (hingga sekarang juga), saya teringat hari itu. Saya teringat kekalahan itu. Datang ke suatu offline event, makan waktu, transportasi, dan tenaga, tetapi nggak bawa pulang apa-apa. Bawa sih, pengalaman. Triggered. Kesel, dibantai, walaupun sebenernya it’s a good thing. Saya lebih senang kalah di awal kalau memang saya tidak memiliki persiapan yang mantap, karena saya layak mendapatkan yang demikian. Siapa yang berusaha, dia yang akan menuai hasilnya.

Di Dota pun juga demikian. Ketika masih di Battle-Net Indogamers Junior, saya sekali mengikuti turnamen (dan kalah juga). Waktu itu memang tidak ada persiapan sama sekali dari clan kami, jadi ya… well deserved. Setelah itu, vakum hingga ikut turni di server Battle-Net NusaReborn dan selalu kalah. “Kenapa sih, nggak pernah menang!?” …Ya, karena kau tidak berusaha keras, diriku di masa lalu.

Tiga bulan awal kuliah, saya tidak memiliki internet yang baik untuk bermain. Setelah pindah ke Cisitu, saya baru memiliki dedicated internet yang cukup kuat untuk berkompetisi tanpa terinterupsi aktivitas pengguna lainnya seperti download/upload. Tim di NusaReborn saya mulai gather up lagi untuk mengambil tembakan lain di game Dota 2. Pada awalnya, kami sering gonta-ganti pemain karena merasa kurangnya kompetensi seorang pemain. Turnamen demi turnamen kami ikuti sejak tahun 2013, hingga akhirnya baru dapat mencicipi kemenangan pertama di tahun 2015.

20987_1690417764518713_8498752385413039809_n
Email pada Tanggal 3 April 2015

Pada waktu itu, saya sangat senang karena somewhat salah satu milestone hidup saya, yaitu merepresentasikan Indonesia di kancah internasional, bisa terwujud, walaupun hanya di dunia game. Pada divisi-divisi sebelumnya, lawan-lawan kami boleh dibilang sedikit yang kompeten. Akan tetapi, ketika sudah memasuki divisi 2, lawan kami berubah menjadi tim-tim yang setiap anggotanya mendedikasikan dirinya untuk menjadi pemain Dota profesional. Mungkin dapat dihitung jari tim yang profesi utama dari anggota-anggotanya adalah sebagai pelajar/mahasiswa. Singkat cerita, kami bertahan di divisi 2 untuk sekitar 3 season (1 season =~ 2-3 bulan). Kami sempat turun ke divisi 3, walaupun season berikutnya kami kembali ke divisi 2. Bagi kami, liga joinDOTA ini adalah ajang yang tepat bagi kami untuk tetap menjaga ketajaman dengan mengasah skill melawan tim-tim dari luar Indonesia. Tentu saja tidak selalu menang, tapi we learned a lot.

Saya rasa video diatas adalah momen favorit saya selama berlaga di liga joinDOTA. Laga itu ada komentatornya, dan pada game itu saya membuat sebuah play yang memutarbalikkan kondisi. Kata komentatornya, “Again, RTD, just coming on ahead in that fight. I think Imburden was just the playmaker there, getting 2 heroes up on the cliff and isolating Arcanys, forcing them to back away”.

Pada akhirnya, saya sadar bahwa untuk jadi pro-gamer, saya harus jadi orang yang tepat di saat yang tepat dan usaha yang super duper ekstra. Dengan usaha seperti saya kemarin, saya tidak akan bisa menembus batas bawah sebagai pro-gamer. Apakah saya sekarang adalah programmer? Nope. I’m an engineer, jadi ternyata, cita-cita yang saya bilang dulu waktu kaderisasi selama kuliah tidak tercapai. Tetapi, sebagai seorang engineer, saya bahagia kok ;) dan saya sangat berharap bisa excel sebaik mungkin di domain ini sehingga one day, maybe, bisa jadi salah satu engineer ternama di Indonesia. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s