Masa Kecil

Sembilan Belas

Boneka, cengeng, dan game. Yes. Itu adalah tiga hal yang mendeskripsikan masa kecil saya. Karena saya sudah sering sekali menulis bagaimana game mengubah hidup saya mulai dari cara berpikir hingga circle pertemanan, maka pada post ini akan membahas sisanya, yaitu boneka dan cengeng.

e592929f398152c5d6d8ac7f12687d74-white-bunnies-white-rabbits
Kelinci

Saya dari kecil suka banget sama yang namanya kelinci. Sewaktu kecil, ketika liburan sering ke puncak, pulangnya bawa kelinci untuk dipelihara. Saya suka kelinci (sampe sekarang) karena mereka hewan yang lucu. Karena mereka tidak bisa berbicara, kita harus membaca body languagenya untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan. Sayangnya, saya dan kakak saya yang ke-2 dulu tidak memikirkan hal tersebut. Pelihara ya, pelihara aja. Kasih makan-minum, lepas setiap harinya, elus-elus, repeat. Karena kesukaan saya terhadap kelinci, saya waktu TK dibelikan boneka kelinci sama mama saya. Boneka kelincinya bukan boneka kelinci yang empat kaki, tetapi yang dua kaki (nah loh, gimana tuh?). Jadi, kelinci menyerupai manusia gitu, deh. Instead of saya jadiin pajangan semata, boneka kelinci itu jadi teman imajinasi saya waktu kecil. Cerita-cerita dari kartun-kartun saya replikasi ulang ketika saya bermain dengan boneka kelinci tersebut. Hmmmmm. For some reason, dulu saya orangnya cengeng banget. Nggak tahu juga kenapa, nggak di rumah, di sekolah, kalau ada kejadian dikit-dikit yang bikin hati ini gusar, rasanya pengen langsung nangis aja gitu. Dari mama dan papa juga sudah sering memberitahu untuk jangan mudah menangis. It didn’t help. Hingga masuk SD, saya masih bermain boneka kelinci, cengeng, dan ngedot (kayaknya).

chibimon
Chibimon (DemiVeemon)

Zaman-zaman SD, cukup banyak kartun-kartun baru masuk ke Indonesia, beberapa diantaranya adalah Pokémon dan Digimon. Karena kedua kakak saya lebih menyukai Digimon ketimbang Pokémon, maka saya pun mau tidak mau mengikuti arus, walaupun dulu kakak saya yang kedua juga pernah mengenalkan saya ke Pokémon melalui TCG dan game boy (how old am I?). Jadi, saya dulu hampir selalu ngikutin Digimon setiap hari Minggu, jam 8 (kalo nggak salah). Nah, kalau di Digimon, ada beberapa fase evolusi seekor Digimon, mulai dari Fresh, In-Training, Rookie, Champion, Ultimate, dan Mega. Ketika saya pertama kali melihat Chibimon (DemiVeemon) ini, saya melihat dia sebagai Digimon yang lucu banget. Tangan pendek, kaki pendek, bentuk badannya bulet, dan ekor-kupingnya zig-zag. Chibimon adalah fase In-Training atau Baby II. Sejak Digimon 2 awal tayang hingga akhir tayang, Chibimon pertama kali muncul di film setelah Digimon-Digimon yang dimiliki oleh para partnernya dibawa dari Digital World menuju dunia nyata, yaitu setelah ExVeemon dan Stingmon berubah jogress menjadi Paildramon untuk mengalahkan Okuwamon. Di dunia nyata, para Digimon de-digivolve untuk menghemat energi (kalau tidak salah). Pada kesempatan itu, Chibimon terlihat sedang bermain-main dengan para In-Training Digimon lainnya dengan memperagakan bagaimana ketika dalam wujud Paildramon, ia menggunakan jurus Desperado Blaster, lalu Digimon-Digimon In-Training lainnya bersorak-sorak gembira.

Shortly after, kakak saya yang pertama membelikan saya boneka Chibimon. Saya sangat senang karena saya dulu memang maniak boneka. Koleksi boneka untuk saya mainkan di dunia imajinasi saya pun bertambah menjadi dua. Boneka kelinci dan Chibimon saat itu selalu saya mainkan bersama. Beberapa waktu berikutnya, mama saya membawakan boneka beruang dan tiga boneka brand perusahaannya, sehingga total saya memiliki enam boneka. Walaupun demikian, boneka kelinci saya waktu itu sudah sangat lapuk, jadi tidak terlalu enak lagi untuk dimainkan. Boneka kelinci tersebut pun saya simpan di lemari, sehingga jumlah boneka yang saya mainkan saat itu berkurang menjadi 5. Di sisi lain, saya tetap menjadi pribadi yang masih tetap sering menangis di sekolah dan rumah. Padahal, dulu waktu SD badan saya boleh dibilang cukup gemuk dan I’m still not sure why I cried that often. Entah dikatain yang terkait dengan what-looked-like ras saya atau dulu masih jamannya menyebut nama orang tua, dan lain sebagainya. Anything that triggered me made me cry, and I gave zero solution. I just wanted myself to be happy and people around should make me happy, too. Betapa egois dan lugunya masa kecil saya dulu.

Sifat cengeng tersebut perlahan-lahan mulai menghilang sejak saya memasuki SMP. Boleh jadi juga ini adalah efek dari faktor game yang sering saya ceritakan. Walaupun saya masih suka “mendung” kalau something is not going according to my plan, paling tidak sudah tidak sesering dulu waktu SD. Perlahan-lahan, mental saya mulai membaik. Di saat yang sama, karena waktu SMP kelas 2 mulai di pasang internet di rumah dan saya menjadi lebih sering berinteraksi dengan teman-teman dunia maya saya, boneka-boneka tersebut yang menemani saya dari kecil semakin jarang saya mainkan. Mereka hanya saya mainkan ketika menjelang tidur saja. Saya rasa terakhir kali saya bermain boneka adalah ketika kelas 2 atau 3 SMP. Semenjak saat itu, saya berkata “hai” kepada dunia virtual dan “selamat tinggal” kepada boneka-boneka saya berikut imajinasinya dan sifat cengeng saya.

IMG_20170723_234609
Speaker dan monitor saya di kosan

Akhir kata, walaupun saya sudah tidak bermain imajinasi dengan boneka-boneka lagi, saya masih senang mengkoleksi beberapa pajangan seperti kelinci-kelincian kecil di speaker kiri saya dan Chikorita di speaker kanan saya. Adapun rasa cengeng saya berubah dari yang awalnya saya menangis setiap kali terjadi hal yang jelek untuk saya menjadi saya menangis apabila saya tidak bisa mengubah suatu kondisi/sifat seseorang, atau paling tidak, hati saya yang menangis, dibalik topeng senyum yang saya pasang setiap harinya.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s