Rakus dan Resiko

Dua Puluh Satu

Post nomor bioskop dari #31HariNulis. Lumayan bingung mau nulis apa, hmmm. Terus, tiba-tiba, kepikiran mengenai dua hal berhubungan yang saya kenal dari dunia game, yaitu rakus dan resiko. Mirip, ya? Keduanya memiliki huruf konsonan “R”, “k”, dan “s”. Walaupun demikian, keduanya memiliki huruf vokal yang seluruhnya berbeda. Kata “rakus” hanya memiliki huruf “a” dan “u”, sedangkan “resiko” memiliki huruf “e”, “i”, dan “o”. Setiap huruf vokal terkandung di dua kata tersebut. Ini sebenarnya unrelated dengan bahasan di post ini sih, hanya trivia saja, karena saya juga baru sadar setelah berpikir, “Apa yang membuat dua kata tersebut rasanya mirip, tetapi tidak mirip?”. Well, back to topic!

30691-greedy-child-1200-1200w-tn
Greedy, atau rakus

Di dunia game, seorang pemain seringkali dihadapkan pada suatu kondisi yang memaksa kita untuk mengambil keputusan yang sulit. Secara umum, ada paling tidak 4 keputusan yang mungkin diambil dalam suatu event. Keputusan pertama, “tidak, biasanya dapat diputuskan langsung dengan mudah dan tidak menimbulkan ketidakjelasan. Keputusan kedua, ragu, mulai membingungkan karena berada di antara “tidak” dan “ya“. Keputusan ini biasanya paling sering membawa petaka. Dampaknya bisa jadi tidak hanya kepada pemain tersebut, tetapi juga timnya, apabila permainan yang dia mainkan adalah game berbasis tim. Keputusan ketiga, “ya“, adalah counterpart dari keputusan pertama– dan dapat ditentukan dengan mudah juga. Keputusan keempat (dan terakhir), “ya, tapi menunggu dulu”. Apa bedanya dengan “ragu“? Pada keputusan ini, pemain tersebut mengambil keputusan ya– tetapi ia menunggu suatu momen sehingga keputusan yang ia keluarkan dapat meraup keuntungan yang maksimal. Apabila dia berhasil menebak dengan baik (dengan menunda aksinya hingga suatu momen), maka keuntungan maksimal yang akan dia dapat. Sebaliknya, apabila tebakannya salah, maka kerugian maksimal yang akan dia dapat. Keputusan keempat ini sangat beresiko. Go big or go home.

balance-sheet-integrity-a-risk-based-approach
Risk in between of profit and loss

Ada banyak sekali contoh di dunia ini yang dapat direlasikan dengan greedy dan risk. Contohnya, ketika di suatu pertandingan sepakbola, seorang pemain (si A) sedang membawa bola di daerah lawan. Sementara itu, ada teman timnya (si B) yang berlari menusuk ke pertahanan tim lawan, mengharapkan through ball dari orang tersebut. Pada saat ini, si A harus mengambil satu dari empat keputusan yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Dengan mengambil keputusan ya atau tidak, si B akan mendapat kepastian lebih cepat. Apabila si A ragu untuk memberikan through ball, si B juga akan menjadi ragu, mungkin dia akan berhenti atau memperlambat larinya, padahal mungkin beberapa waktu setelahnya, si A berubah pikiran dan melepaskan through ball, padahal si B tidak siap dengan bola tersebut. Kesalahan seperti ini akan mengakibatkan hilangnya momentum dari tim yang menyerang. Bagaimana kalau si A mengambil keputusan ya, tapi menunggu dulu? Dia akan menunggu hingga si B hampir melewati garis pertahanan lawan, sehingga dia tidak offside dan lebih memudahkannya untuk meraih bola yang dilepaskan oleh si A.

33541
Through Ball

Ini adalah greedy at its finest. Apabila si A melepaskan bola terlalu cepat, bisa jadi si B tidak dapat mendapatkan bola tersebut– entah bola tersebut keluar lapangan atau kiper berhasil mengintervensi bola tersebut terlebih dahulu. Apabila si A melepaskan bola terlalu lama, bisa jadi si B terkena offside— atau pemain-pemain lawan menjadi keburu sadar dan siap untuk menangani through ball tersebut. Main aman atau main resiko? Keputusan tersebut perlu kita sesuaikan dengan kondisi kita saat itu. Satu hal dari mengambil resiko, kalau kata tukang judi, high risk– high reward. Sebenarnya, main aman juga termasuk resiko. Dengan bermain aman, apakah suatu tim sepakbola bisa memenangkan pertandingan– atau bahkan, memenangkan cup/liga? Boleh jadi dengan bermain aman, suatu tim menjadi kesulitan untuk mencetak gol. Sebaliknya, dengan bermain menyerang (yang lebih beresiko), suatu tim bisa lebih banyak mencetak gol.

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari kita. Tentu saja decision making adalah salah satu aspek penting di kehidupan ini. Dengan melatih decision making, lambat laun kita akan mengetahui pola-pola aksi-reaksi dari keputusan yang kita buat. Bisa jadi ada beberapa kasus yang membutuhkan keputusan “ya” atau “tidak” langsung, bisa jadi juga ada kasus lain yang lebih baik ditangguhkan dulu aksinya hingga suatu waktu, sehingga profit yang kita dapat lebih optimal. Yang jelas, kita tidak boleh ragu.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s