Advokat

Dua Puluh Dua

Hari ini adalah hari berpasang-pasangan, dan kebetulan kali ini saya tergabung dalam cinta segitiga bersama Mas Ivan dan Kak Ans. “AAAAAH, bingung mau pilih yang mana!“, kata hati saya. Tulisan Mas Ivan eksplisit dan serius, sedangkan tulisan Kak Ans implisit dan berada di range bercanda hingga serius. Keduanya bak minyak dan air yang tidak bisa dicampur tanpa pengemulsi. Setelah menjalankan suatu ritual (makan roti tawar dengan meses coklat), akhirnya saya berhasil menemukan sepasang tulisan yang sepertinya berhubungan dan berada dalam ranah topik yang sama, yaitu Tukang Kasih Nasihat dan Penyair Masa Depan.

father-son-advice
Seorang Ayah Memberikan Nasihat Kepada Anaknya

Kedua tulisan tersebut berisi tentang nasihat (paling tidak, saya melihatnya demikian). Hal ini disebabkan karena pada tulisan pertama berisi tentang cara menyampaikan nasihat, baik dari level tinggi ke rendah (seperti tua ke muda), atau pada level yang sama (rekan kerja). Pada tulisan kedua, walaupun tidak secara eksplisit dikatakan “nasihat”, tetapi saya melihat bahwa banyak sekali hal yang bisa diambil dari perkataan Si Penyair ini. Bukankah arti dari nasihat adalah ajaran atau pelajaran baik?

Pada tulisan pertama, diceritakan bahwa nasihat harus disampaikan dengan cara yang tepat. Well, cara tepat inilah yang sulit untuk ditemukan. Karena, cara menyampaikan nasihat untuk setiap orang (ya, literally setiap orang) bisa berbeda-beda. Ada orang yang bisa langsung dikasih nasihat tanpa basa-basi, ada orang yang butuh waktu dulu sebelum dikasih tahu untuk cooling down, ada pula orang yang butuh diapresiasi dulu sebelum dikasih tahu. Mungkin ada macam-macam orang lainnya. Itu baru pre-advice. Bagaimana ketika on-going advicenya? Kita perlu memperhatikan hal-hal lainnya, seperti kontak mata, intonasi, penggunaan diksi, dan lain-lain. Kesalahan dalam menentukan hal-hal tersebut dapat menyebabkan orang yang sedang kita nasihati menjadi sakit hati atau marah. Kalau mengambil contoh pada tulisan kedua, saya melihat bahwa sang penulis termasuk ke golongan yang dapat dikasih tahu langsung tanpa basa-basi. Kalau ia tidak demikian, pasti ia bilang ke Si Penyair, “Gue cuma nanya iseng kok, jangan kuliahin gue, dong!


Cara menyampaikan nasihat ini untuk orang-orang tertentu memang trial and error. Apabila kita menemukan error tersebut ketika dalam proses menasihati seseorang (sehingga orang tersebut marah), segera tanyakan kenapa hal tersebut terjadi. Dengan demikian, hal yang sama tidak akan terjadi di waktu-waktu berikutnya. Approach kita untuk orang tersebut akan menjadi lebih halus dan proses menasihati akan berjalan dengan lancar dan tepat guna.

Yang perlu diperhatikan adalah, jangan menyamakan nasihat dengan kritik yang destruktif (merendahkan). Nasihat pada umumnya memiliki konstruksi sebagai berikut: pre-advice (bila perlu) – sebab – akibat – solusi – saran. Sebagai contoh, saya membeli roti tawar untuk teman saya. Tidak lama kemudian, roti tersebut berjamur. Karena teman saya sudah mengenal saya bahwa tidak perlu basa-basi untuk menasihati saya, ia langsung menanyakan, “Kenapa bisa rotinya udah berjamur aja?” Saya jawab, “Karena aku tidak melihat expire datenya”. Jawaban tersebut adalah sebab dari perkara ini, yang akibatnya adalah dia rugi karena tidak semua rotinya dia makan, padahal dia sudah bayar. Setelah itu, ia memberikan solusi, “Rotinya dibuang saja. Kalau dimakan, cari gara-gara, nanti malah keracunan”, dilanjut dengan saran, “Sebaiknya kapan-kapan kalau beli roti, cek dulu ya expiry datenya”. Versi kritik destruktifnya adalah “Kapan-kapan gue aja sendiri yang beli rotinya deh, biar nggak salah”. Kritik tersebut tidak berisi solusi sama sekali, justru menjatuhkan pihak lawan bicaranya. Sejatinya, untuk menemukan suatu penyebab dari suatu kejadian, mulailah dari pertanyaan “Kenapa?”. Dengan kita mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, kita dapat mendefinisikan solusi-solusi dan saran-saran yang mungkin ke depannya.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s