Tingkat Kepercayaan Media

Dua Puluh Enam

Pagi ini, saya menemukan sesuatu yang sangat menarik di timeline Twitter saya. Seorang fans Arsenal dari India, mengambil screenshot wawancara Arsene Wenger di http://www.arsenal.com dan mempublikasikannya di Twitter.

wenger
Arsene Wenger memanggang media saat diwawancarai

Dari jawaban beliau, saya jadi ter-trigger. Memang, berita sepakbola yang berkisar seputar Arsenal akhir-akhir ini cukup heboh membicarakan “gosip” terkait Alexis Sanchez, sudah kayak acara film Silet. Mulai dari Manchester City hingga PSG, walaupun Wenger sudah mengatakan bahwa Alexis tidak akan dijual di tahun kontrak terakhirnya, media tetap bersikukuh membuat berita yang simpang siur, hingga akhirnya beliau “memanggang” media-media dengan jawaban diatas. Pertanyaan yang muncul di kepala saya, 1) apakah memang benar tugas media adalah untuk curiga dan hidup diatas ketidakpercayaan, dan 2) apakah “jobdesc” jurnalis tersebut berlaku juga untuk media-media di Indonesia?

Pagi tadi, saya membuat serangkaian tweet yang menuangkan isi pikiran saya, yang diawali dengan tweet diatas. Di Subreddit Arsenal, apabila ada artikel reportase, maka post tersebut akan diberikan tag tier, yaitu sebuah “level” yang menandakan seberapa kredibel orang yang memberitakan berita tersebut. Kalau di Islam, bayangkan saja seperti orang yang menjadi perawi hadits. Hadits yang lemah biasanya disebut dha’if, bukan? Karena selain orang yang membawanya kurang kredibel, jumlah orang yang mendukungnya [mendukung as in pernah mendengar hadits yang sama] pun sedikit. Ketika sebuah hadits sudah dikatakan dha’if, apakah kita masih mau mendengar dan mengaplikasikan hadits tersebut? Tentu tidak. Sama halnya dengan media, kalau saja kita tahu tingkat kredibilitas suatu media, mungkin kita akan lebih “cerdas” dan tidak “buta” dengan hal-hal yang ada di sekitar kita. Saya adalah orang yang boleh dibilang ignorance, atau masa bodo, ketika orang sudah membicarakan politik. Kenapa? Karena terlalu banyak media, dan setiap media memberitakan berita dari sudut pandang yang berbeda-beda. Framing. Celakanya, semua orang ketika sudah terjun ke dunia politik ini sulit sekali untuk dibedakan, siapa yang objektif dan siapa yang subjektif. Pada tweet pagi tadi, saya mengambil contoh bahwa di media luar (at least yang bidang sepakbola), penulis suatu berita dituliskan namanya utuh-utuh. Bahkan, beberapa media secara gamblang sering berkicau di tweetnya, “5 things we learned from X vs Y: by Z“, dimana Z adalah nama penulisnya. Dengan demikian, publik yang membaca dapat dengan leluasa menilai apakah Z adalah orang yang kompeten atau tidak dari merangkum hal-hal penting dari suatu pertandingan sepakbola.

Setelah itu, saya melanjutkan dengan memberikan 2 contoh jurnalis dari media yang fokusnya adalah untuk “kepoin” Arsenal. Mereka bekerja untuk medianya masing-masing, tetapi mereka tidak malu untuk memajang namanya. Alhasil, fans Arsenal pun jadi tahu, “Wah, medianya diberitakan oleh Chris Wheatley/Ornstein, nih. Percaya aja, deh“, karena memang mereka kredibilitasnya sudah terbukti dari waktu ke waktu. Kalau di Indonesia, bagaimana? Sepertinya apabila seorang jurnalis sudah bekerja untuk suatu media, biasnya sangat tinggi. Sulit untuk menilai kredibilitasnya. Terlebih lagi, nama penulis sering hanya diinisialkan. Sepertinya hanya koran BOLA saja yang saya ingat beberapa kali berani untuk menyebut nama penulisnya, sebut saja Om Darojatun. Beliau adalah salah satu jurnalis favorit saya ketika dulu masih sering membaca koran BOLA. Bahasannya selalu on point.

Pada segmen berikutnya, saya berargumen bahwa nama adalah sesuatu yang berharga. Ketika seseorang namanya sudah tercoreng, susah untuk mendapatkannya kembali tanpa pengorbanan yang luar biasa besar. Seperti yang sudah saya bilang tadi, kredibilitas penulis penting bagi publik untuk menilai konten tulisannya. Dengan menginisialkan nama penulisnya, publik pun tidak tahu siapa yang menulis. Andaikata nama penulis tidak diinisialkan, mungkin, hanya saja mungkin, jurnalis-jurnalis akan menjadi lebih berhati-hati dalam “menggiring” opini publik dengan cara yang tidak pantas.

Selain meninjau manfaatnya, saya juga meninjau resikonya. Mungkin saja di Indonesia belum banyak diterapkan demikian karena banyak potensi ancaman. “Eh, elu kalau mau tetep hidup, elu harus nulis yang mendukung golongan X“, contohnya. Tetapi, apakah resiko tersebut tidak lebih buruk dibandingkan masyarakat yang “buta”? Jujur saja, saya sekarang tidak tahu harus baca media yang mana untuk mendapatkan informasi yang kredibel, jadi saya tidak baca saja sama sekali. Lagi-lagi karena tadi, framing. Saya tidak memiliki kompetensi di bidang politik, walaupun kita pasti one day akan berhubungan dengan yang namanya politik. When that time comes, I really hope I could live in a healthy political environment.

Tweet-tweet saya diatas adalah buah pemikiran saya untuk menjadi salah satu alternatif solusi dari masalah yang sekarang ada di Indonesia, tentunya dengan tinjauan pros-consnya– yaitu masyarakat dapat lebih memilah dan memilih berita yang kredibel— tetapi datang dengan harga yang cukup mahal, yaitu kesejahteraan dan keselamatan para jurnalis. Jurnalis harus mendapat perlindungan lebih dari pemerintah dengan mengekspos berita yang apa adanya.

Advertisements

One thought on “Tingkat Kepercayaan Media

  1. Pingback: Tanerys

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s