Alarm Masa Depan

Dua Puluh Sembilan

Hari ini, hari berpasang-pasangan sekuel yang terakhir dari #31harimenulis. Kebetulan kebagian untuk mencari inspirasi dari tulisan-tulisan Sylvi. Menurut saya, dari membaca tulisan-tulisannya, Sylvi adalah orang yang pemikir, salah satu atribut yang juga sangat saya junjung tinggi, karena sebagai manusia yang memiliki akal, kita harus memanfaatkan hal tersebut sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta kita. Saya terinspirasi tulisan Sylvi tentang pesan untuk dirinya sendiri di masa depan, we do have a lot in common, don’t we?

letter-mail-envelope
Sebuah amplop

Pada tanggal 7 Januari 2017 (dalam format Amerika, 01/07/2017), saya menulis sesuatu yang identik (dalam bentuk page) dengan apa yang Sylvi tulis di post tersebut. Dengan latar belakang yang sama, yaitu untuk mengharapkan bahwa apa-apa yang tertulis di post/page tersebut akan menjadi “bekal” saat kita melihatnya di masa depan. Menurut saya, ini adalah salah satu cara yang cukup efektif. Ketika kita menulis sesuatu, apalagi yang kontroversial, pasti kita akan selalu mengingat hal tersebut, bukan? Siapa yang ingin untuk menjilat ludahnya sendiri? Dengan menulis sesuatu, kita (atau paling tidak, saya) akan mengalami flashback sesaat ketika kita akan melakukan hal yang mirip dengan tulisan yang kita tulis pada waktu sebelumnya. Tulisan kita adalah pengingat kita. Mungkin saja, ketika kita membacanya di masa depan, tulisan tersebut akan menjadi penyemangat kita [ketika sedang sulit], atau pembuat bangga kita [ketika sudah sukses]. Bagaimana jika kita di masa depan membaca tulisan kita dari masa lalu? Apakah kita akan membacanya dengan penuh rasa takut– karena kita sudah mengecewakan diri sendiri di masa lalu, atau penuh dengan rasa keingintahuan– keingintahuan apakah diri sendiri di masa lalu sudah puas dengan pencapaian kita saat itu?

All in all, ya, saya dulu juga sama kayak Sylvi, sudah mulai doing things di eFishery sembari ngerjain skripsi (atau tugas akhir). At one point, iya choking, maksudnya kelabakan, harus mengejar deadline tugas akhir padahal ada kerjaan kantor juga. Luckily, waktu itu masih bisa dicover sama Kak Ans. Sesekali juga Kak Ans suka query mengenai tugas akhir saya, lalu pertanyaan yang sama muncul dari dosen penguji waktu sidang, jadi jawabannya udah nggak perlu mikir lagi (thanks kak Ans!). Selama waktu itu, seringkali mondar-mandir kampus-kantor-kosan untuk ngurusin seminar, sidang, dan persiapan wisuda, walaupun jarak tempuh dan kemacetan yang saya tempuh pastinya tidak sebanding dengan yang dia (Sylvi) alami, tetapi, worth it, kok! Saya tidak menyesal mengambil jalan ini, justru saya menyesal karena, “Kenapa saya tidak lakukan hal-hal seperti ini lebih dini?” Rasanya baru mencoba jalan ini saat sudah tingkat akhir itu tergolong “telat”. It could have been better. Tetapi, ya, lagi-lagi, mungkin ini bisa dijadikan pelajaran untuk junior-junior saya nanti. Semangat ya Syl, dalam berkontribusi melalui divisi marketing dan mengerjakan skripsinya!

Advertisements

One thought on “Alarm Masa Depan

  1. Pingback: Tanerys

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s