Perspektif

Tiga Puluh

Hari minggu, minggu ini… tunggu. Setelah dipikir-pikir lagi, entah kenapa di bahasa Indonesia harus ada nama hari dan granularitas tanggal yang sama sehingga dapat menimbulkan ambiguitas. Ketika saya bilang “hari Minggu ini”, apakah saya merujuk kepada “hari Minggu pada minggu ini” atau “hari Minggu (sekarang)”? Ah, sudahlah. Hanya pemikiran yang numpang lewat. Jadi, hari minggu, minggu ini, tiba-tiba saya terpikir untuk Googling kehidupan orang yang buta. Saya tidak tahu, tiba-tiba saya merasa bahwa mata yang dikaruniai ini sangatlah berharga. Indera penglihatan ini tidak hanya nikmat, tetapi juga ujian. Apakah kita dapat menggunakannya untuk hal yang baik-baik, atau justru kita menggunakannya untuk melihat hal-hal yang mungkin belum layak/sah/halal kita lihat?

Saya mendapati video cerita dari seorang mahasiswa (mungkin sekarang sudah lulus, videonya tahun 2014) yang tidak memiliki indera penglihatan. Kata deskripsi videonya, “College can be a tough adjustment for any student and that can be amplified by a disability. Imagine coming to college without any idea what the campus looks like. Junior Chris Wright, from Nashville, TN, tells us his story about what college is like for someone born blind”. Setelah dipikir-pikir, benar juga. Bagaimana kalau saya dulu buta? Apakah mungkin saya bisa jalan di kampus tanpa tersandung? Rasanya pasti ada yang kurang ketika saya melakukan sesuatu, tetapi saya tidak tahu tempat saya melakukan sesuatu tersebut. Saya tidak bisa melihat keindahan kampus tempat saya melanjutkan studi. Tidak hanya itu, teknologi sekarang sudah memasuki era touch screen. Pasti akan sangat sulit sekali untuk menekan tombol-tombol di touch screen yang walaupun, bisa ditambah efek getar dan enhancement-enhancement lainnya, rasa yang ditimbulkan setelah menekan suatu tombol sangat berbeda ketika kita menekan tombol HP non-touch screen. Bagaimana jika saya ingin menjelajahi tempat baru, sendirian? Ada constraint-constraint– mungkin bukan ada lagi, tetapi sangat banyak halangan-halangan apabila kita kehilangan fungsi penglihatan kita.

Apa saja contohnya? Mungkin kita mungkin tidak bisa melihat wajah-wajah teman seperjuangan kita, wajah-wajah dosen, staf-staf kampus, dan lain sebagainya– tanpa indera penglihatan kita. Sekalipun kita sudah berhasil mencapai ruangan kelas tanpa bantuan orang lain, apakah kita masih mungkin memiliki gambaran keseluruhan dari kampus kita tanpa indera penglihatan? Walaupun demikian, seperti yang saya bilang pada bagian pembuka tadi, indera penglihatan yang kita miliki adalah nikmat sekaligus ujian untuk kita. Demikian pula untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan tersebut. Nikmat mereka adalah, biasanya, orang-orang tanpa indera penglihatan, indera-indera yang lainnya akan lebih peka karena lebih diutilisasikan dalam kegiatan sehari-hari. Ujian mereka adalah, mereka harus sabar karena mereka tidak dapat melihat keindahan dunia ini— yang tentu saja sangat sulit menggambarkannya dengan kata-kata. Bagaimana kita dapat memberitahu warna suatu benda kepada orang yang buta? Tidak semuanya tahu persis warna RGB dari [0, 0, 0] hingga [255, 255, 255]. Jangankan buta, ketika saya membaca buku Designing With Data yang di dalamnya terdapat bahasan tentang penggunaan warna-warna yang sedemikian sehingga agar orang buta warna dapat membedakannya saja saya sudah cukup pusing.

44775-quote-now-i-see-that-the-circumstances
Quote Mewtwo dari Pokemon Movie I

Iya, semua itu perspektif, baik itu dari bagaimana cara kita menanggapi sesuatu, atau bagaimana cara kita untuk memposisikan diri di posisi orang lain. Setiap hal, sepahit apapun, apabila dilihat dari sisi lain, walaupun kelihatan dipaksain– pasti ada positifnya. Tentu, ketika saat kejadiannya, pasti akan susah sekali melihat positifnya karena kita terselimuti oleh emosi yang membara– entah itu marah, sedih, atau bahagia. Untuk yang bahagia, pasti sudah tahu positifnya apa, kalau nggak, sepertinya harus diperiksakan ke rumah sakit jiwa, sedangkan untuk marah dan sedih, penting untuk mencari tahu positifnya agar kita dapat menjadi sosok yang lebih baik. Jangan biarkan kesalahan yang membuat kita marah dan sedih terjadi lagi di masa yang akan datang. Ini, tentunya juga pengingat bagi saya sendiri untuk 1) manfaatkan nikmat yang kita miliki dengan sebaik-baiknya dan 2) jangan terlalu enggan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s