Inspirasi

Tiga Puluh Satu

inspiration
Inspirasi

Hari terakhir dari #31harimenulis. Setelah saya lihat-lihat lagi ke belakang, ternyata jarang sekali saya ngepost di blog ini sebelum event ini. Satu bulan paling banter hanya 1 post, terkadang malah tidak ada post sama sekali. Ya, saya memang lebih sering berkicau di Twitter ketimbang di blog, kalau tidak, jumlah tweets saya pasti belum mencapai 51800. Bawel, ya? Iya. Dari yang biasanya hanya menulis kodingan saja, selama sebulan ini merasa mendapat tantangan untuk tetap konsisten menulis setiap harinya– dan belum tentu tentang kodingan. Tentunya, ada hikmahnya juga dari apa-apa yang telah saya lakukan selama sebulan ini, diantaranya sebagai berikut.

Mengubah Kejadian Menjadi Ide

Sebelum menjajal event ini, sebenarnya saya juga sudah sering sekali menangkap ide dari kejadian-kejadian yang terjadi di kehidupan sehari-hari saya. Kendati demikian, rasanya berbeda menulis di blog dan di Twitter. Menulis di blog, terutama kalau berkaitan dengan argumentasi saya, saya adalah orang yang big-no-no dengan penjelasan singkat. Saya lebih ke tipe yang menjelaskan panjang lebar– yang sangat cocok sekali dengan blog yang tidak memiliki limitasi karakter. Dengan menulis di blog ini, rasanya agak krik-krik kalau misalnya saya hanya berargumen sedikit saja. Saya dipaksa untuk menguras otak saya untuk memperkuat argumen saya di seluruh aspek.

Mengenal Kepribadian Orang

Saya senang, dengan menjajal event ini, saya juga bisa melihat tulisan rekan-rekan saya yang lain. Setiap orang memiliki gaya tulisan dan fokus yang berbeda. Ada yang menulisnya selalu dengan pembawaan serius, ada yang setengah serius-setengah bercanda. Yang bercanda saja… hmm, sepertinya tidak ada (mungkin saya orangnya terlalu serius). Dengan melihat tulisan dengan fokus yang berbeda-beda juga, saya juga bisa mendapatkan insight, karena mungkin dalam kesehariannya saya tidak merasakan apa yang sebenarnya terpikirkan oleh mereka.

Konsisten

Tulisan Kak Gibran ini menarik. Setelah dipikir-pikir lagi, kenapa saya lebih konsisten tweeting ketimbang ngeblog? Hmmm. Sebelum ini, saya juga kalau “berkoar-koar” sepertinya juga lebih sering di post Facebook– yang lagi-lagi, sulit dilacak secara historikal. Kenapa saya tidak berkoar-koar di blog saja sekalian? Hmmm (sekali “Hmmm” lagi dapat piring cantik). Dari event ini, saya belajar untuk tetap konsisten menulis– most importantly, seperti yang sudah saya tulis pada poin nomor satu, mencari ide dari kejadian yang terjadi sehari-hari.

Nostalgia

Ah, ini yang paling penting! Karena poin nomor dua– kepo-kepo tulisan rekan-rekan yang lain– tiba-tiba jadi keinget juga dulu waktu SMP, sering ngebacain tulisan orang yang menurut saya jagoooo banget nulis cerita. Salah satunya ini, The Will of a Fireling I, tetapi link di post pertamanya rusak, jadi harus ngescroll-scroll dan pindah page kalau mau lihat chapter-chapter berikutnya. Sampai sekarang, sudah 9 tahun berlalu (itu post tahun 2008), cerita itu rasanya masih kerasa feelnya. Mungkin juga karena perkembangan saya juga. Sekarang sudah merasakan manis-pahitnya kehidupan, jadi ceritanya penulis itu lebih “kerasa” feelnya.


Tapi, overall, bisa menjajal event ini adalah satu hal yang menurut saya cukup baik! Saya berharap, walaupun tidak satu post satu hari ke depannya, tetap bisa konsisten mengutarakan apa yang ada di otak saya dalam bentuk panjang (di blog) ataupun dalam bentuk pendek (di Twitter). Jangan lupa follow, ya! *promosi

Advertisements

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s