Cerita Tentang Rasa dan Logika

Prolog

Hey, guys! Baru mulai, udah bohong. Judulnya, panel bahasa Indonesia tetapi diawali dengan bahasa Inggris. Oh well, campur aduk dikit boleh lah ya. Jadi cerita ini adalah buah pemikiran saya beberapa waktu ke belakang. Sebenarnya, sudah sejak saya kecil, tetapi waktu kecil saya belum dapat berpikir secara komprehensif seperti setelah berkuliah di ITB (terus promosi). Nggak deng, kuliah itu hanya sarana. Saya beruntung punya banyak teman-teman yang bisa membantu saya memaksimalkan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh kampus Ganesha itu. Sampai mana tadi? Oh, sejak saya kecil, saya sudah punya pemikiran tentang hal ini, tetapi karena faktor lingkungan dan pendidikan, pemikiran ini seringkali saya lupakan. “Buat apa kupikirkan kalau misalnya tidak dipake?”, kataku jaman dahulu waktu masih bocah SD sampai SMA. Mungkin karena dulu saya orangnya cengeng, sehingga menangis saya anggap adalah jalan keluar dari setiap permasalahan. Ternyata tidak. We have to face it. Mungkin ini lebih ke rant-post dibandingkan story-post, tetapi post ini adalah isi pikiran saya dalam beberapa waktu ke belakang. Jangan ekspek bisa bermanfaat, ya, nanti kecewa.


Konten

Duh, jadi malu ketauan dulu cengeng. Padahal laki-laki. Kalau saya melihat ke belakang, iya, dulu saya sering banget nangis. Pake banget (di bold, italic, dan underline). Waktu masih bayi, rahasia umum sepertinya menangis. Ketika masa kanak-kanak atau saat jaman-jaman TK, yaaa masih okelah. SD, okay-ish. SMP, erm, mulai aneh, bahkan sangat aneh. SMA, nggak banget. Apalagi lagi-lagi, untuk seorang laki-laki, yang menurut norma masyarakat (tidak tahu di tempat lain gimana, tapi di Jakarta ekspektasi orang-orang adalah laki-laki adalah orang yang kuat, tegar, bermental baja, calon suami idaman, dan lain-lain). Kembali lagi ke yang tadi, saya saat ini merasa ketika dulu saya menangis, itu disebabkan karena saya tidak menemukan jalan keluar yang win-win solution. Selalu ada pihak yang dirugikan. Saya berdebat selalu dengan orang yang keras kepala, karena saya tahu saya tidak dapat menang melawannya, akhirnya saya menangis. In fact, hingga SMP saya masih terkadang menangis. Cengeng banget ya. Tapi sebenernya kalau saya tidak menangis, kayaknya bakal lebih berbahaya lagi orang-orang yang berdebat dengan saya, karena kalau saya marah, saya bisa lepas kontrol dan mungkin main otot, seperti makhluk-makhluk di hutan zaman dahulu. Saya melihat, tangisan saya adalah bentuk untuk meredam kemarahan saya dan bentuk ketidakmampuan saya menghadapi orang yang keras kepala.

Saya adalah orang yang menjunjung tinggi logika. Walaupun begitu, jangan anggep saya dapet nilai bagus ya di mata kuliah Logika Informatika di Teknik Informatika ITB dulu mentang-mentang saya seneng sama logika. Saya cuma senang caranya saja untuk melakukan inferensi kebenaran. Sebenarnya, sudah sejak SMA sih, belajar tabel kebenaran. Benar dan benar, ya benar. Benar dan salah, salah, dan seterusnya. Waktu saya kecil dulu, saya seringkali melakukan kesalahan yang berujung dimarahi oleh orang. Lalu saya bertanya, “Kenapa saya salah?”. Jawabannya, “Pokoknya salah.” Wow. Sangat deskriptif. Saya secara tidak langsung dipaksa mengira-ngira tentang hal yang salah dan yang benar, karena saya tidak diberikan reasoning yang tepat ketka saya melakukan kesalahan. Tidak bisakah sebuah alasan diberikan alasan yang tepat dan valid? Rasanya kalau udah salah itu, salahnya mutlak. Yang muda harus kalah, yang tua harus menang. Banyak banget contoh-contoh yang bisa saya gunakan, dua diantaranya:

  1. Waktu dulu kecil, waktu bermain saya dibatasi. Bahkan hingga SMA. “Kalau main game lama-lama, nanti nilainya turun,” katanya. Not exactly. Itu hanyalah hasil generalisasi dari sampel-sampel yang memang kebetulan aja ketika diambil sampelnya anak yang suka game terlalu lama dengan manajemen waktu yang buruk. Saya rasa learning curve setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang cuma dikasih waktu 5 menit baca suatu materi langsung mengerti, ada juga yang butuh lebih dari itu. Tidak semua orang bisa disamakan. Manusia ini ibarat sebuah kelas di pemrograman berorientasi objek yang memiliki atribut random. Iya, sama-sama manusia, tetapi traitnya berbeda-beda. Bisa saja anak yang keluar pertama kali dari perut seorang ibu memiliki atribut A yang menonjol, tetapi anak berikutnya justru atribut B yang menonjol. Kualitas ayah dan ibunya juga menentukan, sih, tapi bukan berarti perlakuan kita ke setiap anak itu harus disamakan. Saya rasa penting bagi orang tua untuk mengetahui trait anaknya sehingga anaknya tidak diperlakukan sebagai robot. Tahu kan, robot? Ketika ada banyak robot, lalu satu robot ada bug, lalu seluruh robot tersebut diperbaiki, padahal belum tentu robot-robot yang lain juga mengalami bug yang serupa. Untuk robot mungkin belum apa-apa (saya memakai kata belum karena, bisa jadi di masa depan robot kalau diperlakukan seperti robot bisa memberontak), tetapi untuk manusia? Merujuk dari cerita Starcraft II: Legacy of the Void, ada sebuah ras robot yang dinamakan The Purifiers yang diciptakan dengan personalitas pejuang-pejuang yang telah wafat. Tidak hanya personalitas, robot-robot tersebut juga hidup, memiliki rasa dan logika. Kerajaan Protoss (salah satu ras di Starcraft, memiliki bentuk setengah alien-setengah manusia), The Conclave, memperlakukan Purifiers seperti layaknya robot, bukan seperti pejuang seperti waktu mereka hidup sebagai Protoss murni. Alhasil, Purifiers memberontak, menyerang Conclave dan memisahkan diri dari kerajaan tersebut. Beratus-ratus/ribu-ribu tahun kemudian, kerajaan Protoss yang baru, The Daelaam, dipimpin oleh Artanis, mencoba untuk menarik kembali Purifiers untuk bersatu dengan Protoss, karena saat itu, dunia sedang berada dalam ancaman yang teramat sangat. Tanpa mempersatukan seluruh ras Protoss, Artanis merasa dunia tidak dapat diselamatkan. Ketika Artanis berdiskusi dengan para penasihatnya, ada salah satu Protoss yang memiliki posisi sebagai Preserver, yaitu Rohana. Tugas Preserver adalah untuk menjaga sejarah dari ras Protoss dari waktu ke waktu, sehingga pemimpin di masa yang akan datang dapat mempelajari kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Rohana menjelaskan ke Artanis bahwa Purifiers di masa lalu menyerang Conclave dan melabeli mereka sebagai “senjata terlarang”. “The Purifiers possess no loyalty– no honor,” sebut Rohana. Artanis, mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena Conclave tidak memperlakukan mereka sebagai Templar (ksatria pejuang Protoss), tetapi sebaliknya– sebagai budak yang tugasnya adalah memenuhi kemauan majikannya. Hal ini mungkin sama dengan perlakuan terhadap saya ketika masih kecil dulu. Saya tidak pernah merasa ditanya mengenai kapabilitas belajar saya. Saya langsung saja dilarang untuk bermain lama-lama. Bukan berarti saya sombong untuk bisa belajar dengan cepat, tetapi saya merasa larangan tersebut hanya berbasis feeling, yang didasarkan pada fakta-fakta yang kurang relevan dengan keadaan saya saat itu. Contoh lain adalah waktu kecil, ketika saya tidak mau makan, saya dicocoli saus sambal, seperti yang dilakukan terhadap kedua kakak saya. Bedanya, kedua kakak saya jadi menyukai sambal karena itu, tetapi tidak terhadap saya. Lalu, akhir-akhir ini, saya sering ditanya, “Kenapa tidak suka sambal?” Ya, mungkin karena tidak semua orang bisa suka sambal karena dijejelin sambel waktu masih kecil demi bisa makan banyak. Tidak semua anak kecil kalau mau dipaksa makan banyak harus dijejelin sambel, bukan?
  2. Masih waktu dulu kecil, sekarang ruang waktunya diperkecil ke waktu saya SD. Jadi, dulu SD pulang sekolah jam 12. Saya ingat, waktu itu sedang belajar pelajaran IPS. Bel pulang berbunyi. Saya memasukkan buku saya ke tas, karena tidak ada pemberitahuan dari Pak Guru saya waktu itu, sekedar ngomong “Sebentar ya, 5 menit lagi” saja tidak. Kemudian tiba-tiba, dia mendatangi meja saya dan berkata, “Siapa suruh memasukkan buku kamu?” Iya, iya. Saya nangis langsung waktu itu. Saya nggak tahu apa yang harus dilakuin. Saya tahu waktu itu Pak Guru saya lebih superior dari saya dan tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang demikian. Logikanya adalah, ketika tidak ada pemberitahuan atau apa-apa, saya langsung saja memasukkan buku ke tas, kalau ada, ya saya tetap keluarkan. Tetapi dengan berkelakuan demikian, saya cukup yakin Pak Guru saya waktu itu bergerak berdasarkan kemauan dia, alias feeling. Saya cukup yakin kalau dia bergerak berdasarkan logika saat itu, maka dia akan memberitahu satu kelas untuk tidak menutup bukunya dan melanjutkan pelajaran sebentar lagi, melebihi waktu pulang untuk sementara.

Which lead us to the title of this post, “Cerita Tentang Rasa dan Logika”. Saya adalah salah satu orang yang sangat buruk dalam konteks rasa. Saya merasa perasaan saya sudah dipress sedemikian oleh saya sendiri karena kebencian saya, sehingga aksi-aksi saya hampir selalu saya dasari dengan logika. Saya bahkan sudah berkali-kali les menyetir dan tidak dapat merasakan sedalam apa saya harus menginjak rem, gas, dan kopling. Okei, ada meteran di kendali mobil, tetapi meteran tidak merepresentasikan tenaga yang perlu seseorang keluarkan untuk mendorong pedal-pedal dari suatu mobil. Perasaan, tapi tidak dapat dirasakan. Lucu, bukan? Bandingkan dengan logika, yang didasari oleh fakta-fakta yang tangible, dapat kita lihat, dapat kita baca. Dengan menggunakan logika, seseorang bisa ditentukan salah atau benar. Mungkin tidak sepenuhnya salah atau benar, bisa jadi ada sudut pandang yang lain yang memberikan nilai kebenaran yang sebaliknya. Bagaimana dengan perasaan? Apa dasar dari perasaan? Hanya asal tebak-tebak saja? What if you hurt people with your feeling? Saya benci, kalau bukan sangat benci, terhadap sebuah keputusan yang didasari dengan perasaan. Ketika keputusan tersebut perlu dipertanggungjawabkan, tidak ada alasan yang kuat. Kita tidak bisa ketika ditanya, “kenapa kamu membunuh orang tersebut?” lalu kita jawab, “karena pengen aja.” Ngajak ribut namanya. Selamat masuk penjara. Udah membunuh orang, alasannya nggak jelas lagi.

Dari seluruh wanita dan pria yang pernah saya temui, terlalu banyak wanita yang bergerak berdasarkan perasaan. Ya, kalau katanya laki-laki adalah manifestasi dari logika dan perempuan adalah manifestasi dari perasaan. Perempuan nggak jarang berkata kalimat-kalimat berikut di film atau di dunia nyata, “Kamu nggak ngerti perasaan aku!”, “Peka dong!”, dan sebagainya. Nggak cuma perkataan yang berhubungan dengan perasaan aja, tetapi terkadang perkataannya yang didasari dengan perasaan ini sangat tidak masuk akal sehingga tidak heran, kaum laki-laki suka banyak yang kesal. Mereka bisa saja pada suatu waktu berargumen A+, sedangkan pada kesempatan lain berargumen A-, padahal dua hal itu adalah hal yang saling kontradiktif, padahal konteksnya masih konteks yang sama. DAN PARAHNYA, MEREKA TIDAK MENYADARI HAL TERSEBUT. Seriously, saya cukup muak dengan yang namanya feeling. Bahkan ketika dulu saya masih sering ikut turnamen game online, sebut saja nama gamenya Dota, ketika kalah, saya menangis bukan karena feeling saya, tetapi karena logika saya berpikir, “Apa hal yang bisa saya lakukan lebih? Apa yang seharusnya tidak saya lakukan dan saya lakukan sehingga saya tidak jadi kalah?” Akhirnya, berbuah ke solusi. Bedakan dengan kisah yang sama para wanita. Ketika ditanya, “Jadi sebenernya mau kamu gimana?” dijawabnya, “Maunya kamu ngertiin aku”, “Maunya nurutin apa kata aku”, yang ujung-ujungnya, ya harus mereka yang menang. It pains my heart and mind, kenapa harus ada entitas yang sebegitu egoisnya dan mau dikendalikan oleh perasaan. Apakah mereka tidak sadar kalau perasaan itu bisa melukai orang lain tanpa mereka sadari?

Teman-teman kuliah satu program studi saya sudah ada yang menikah, dan nggak lama lagi juga bakal nambah lagi. Sementara itu, saya disini masih berpikir, is it virtually possible to combine both logic and feeling? Saya merasa kedua hal tersebut sangat sulit sekali digabung. Apakah pengorbanan yang saya berikan dapat memberikan hal yang lebih bagi saya? Apakah saya sanggup, sebagai salah satu orang yang membenci perasaan, untuk melebur dengan sesosok yang mengedepankan perasaan? Saya merasa fed up, ketika saya sedang menunggu anggota terakhir untuk makan bersama di meja makan (sambil main game), saya langsung diomeli, “Makan jangan sambil main HP.” Saya bahkan tidak memegang sendok sama sekali. Mangkok saya pun belum saya isi dengan nasi. Apa gunanya sebelumnya saya berkata, “Nanti makannya nunggu Papa pulang ya, biar bareng-bareng,” kalau misalnya ujung-ujungnya malah makan duluan tanpa menunggu anggota makan lengkap? Please. Saya tidak bisa menemukan logika di balik hal tersebut. Hal tersebut bisa saya terima kalau misalnya saya sedang makan dan main HP di saat bersamaan, tetapi tentu saja hal itu tidak akan saya lakukan kalau lagi makan bersama. Kalau kemarin-kemarin saya condong untuk memiliki pasangan hidup, sekarang saya mulai reconsider lagi untuk hidup sendiri, mungkin selamanya. Saya senang jika dapat menyempurnakan agama saya, tetapi apabila berujung menjadi menzalimi diri saya sendiri, apalah artinya?


Epilog

Ah, apalah artinya logika ini di mata perasaan, tidak ada artinya.

Advertisements