Gamer kompetitif, kapan diakui oleh masyarakat Indonesia?

Prologue

Jujur, ketika aku mendengar bahwa penyebab seorang mahasiswa terpuruk dalam bidang akademik disebabkan oleh game, apalagi disebut dengan spesifik, “Dota” (disini kita blak-blakan saja), hatiku panas seperti ada sesuatu yang membakarnya. Ya, itu perasaanku. Aku masih tidak mengerti mengapa orang Indonesia sering sekali mengatakan, “Budaya luar yang masuk ke Indonesia, yang baik diambil, yang tidak baik dikeluarkan.” akan tetapi semua itu hanyalah bullshit — when it comes to gaming topic. Seolah-olah gamer kompetitif dan gamer casual disamakan oleh mereka.


Aku memulai kehidupan game di tahun 2007, ya saat itu aku masih SMP. Permulaan semua ini adalah ketika SD, ketika kakakku mengenalkanku ke berbagai game di PC, seperti Counter-Strike, Diablo II, Warcraft III, dan lain-lain. Aku dan kakakku sering sekali bermain CS dan Warcraft III (melee map) bersama menggunakan LAN. Diluar itu, kami juga sering bermain game PS1 dan Nintendo (dengan emulator) apabila sedang bosan bermain game PC. Kembali ke 2007, aku mulai merasakan kehidupan warnet sepulang sekolah. Aku hanya membutuhkan waktu 1 bulan untuk dikenal kakak kelas 2 tingkat diatasku di warnet tersebut. Setiap hari, aku selalu bermain ~30 menit (minimal) di warnet sepulang sekolah. Pada tahun itu juga, aku mulai mengenal Battle-Net pada Warcraft III dan membuat nick pertamaku, illllll. Nick itu tidak sengaja terbuat karena seluruh nick yang aku coba tidak bisa dan pada saat desperation time, aku mengetik huruf ‘i’ lalu ‘l’ sebanyak-banyaknya hingga aku menekan tombol “Enter” dan ternyata BOOM! “Your account has been created.”

Singkat cerita, aku mendapatkan teman yang cukup banyak dari clan di Warcraft III dan beberapa lintas clan, yang hingga sekarang kami masih keep in-contact. Tahun 2008, aku bersama teman-temanku mengikuti turnamen ESWC Counter-Strike di Balai Sarbini. Kalah sih, tapi momen di tempat itu tidak akan pernah kulupakan. Tahun ini juga, aku mulai jarang main ke warnet karena di rumahku akhirnya dipasangkan internet, mengapa lama? Jawabannya adalah karena ibuku merasa saat itu belum perlu internet. Well, berkat internet itu aku jadi jarang main ke warnet. Untuk apa bayar main di warnet kalau sudah bayar untuk internet di rumah? Aku semakin sering berinteraksi dengan teman-temanku di forum Indogamers. Transisi antara tahun 2008-2009, aku mengikuti turnamen pertama di Dota dan lagi-lagi masih kurang beruntung karena ada permasalahan koneksi yang dialami oleh temanku. Tahun 2009, aku mencoba game baru yaitu World of Warcraft dan pada saat yang sama, aku mencoba menjadi operator Battle-Net pada server IDGS Junior.

Pada saat aku menjadi operator IDGS Junior, aku sangat tidak bisa mengatur waktu karena aku saat itu sedang sangat senang bermain World of Warcraft. Pertengahan tahun 2009, saya lulus SMP dengan total nilai (atau orang dulu bilangnya, NEM) 36,05 (not bad for a freak gamer, maybe). Tahun 2009 menjelang akhir, karena jumlah user di IDGS Junior semakin menurun, staff internal memutuskan untuk melakukan “open registration” bagi user-user baru dengan harapan jumlah user yang akan bermain di server tersebut meningkat. Akan tetapi, fakta berkata lain. Banyak sekali abuser yang memanfaatkan momen ini untuk merusak komunitas server ini. Jumlah user yang melakukan register account ada banyak, akan tetapi yang login hanya dikit. Kebanyakan dari mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran yang berujung pada account ban dan hal ini berlangsung setiap hari. Saya pun resign dari jabatan operator ini sekitar 2 bulan kemudian.

Setelah resign, praktis saya hanya bermain game World of Warcraft sambil melanjutkan studi di jenjang SMA. Saya semakin mengenal banyak orang dan lagi-lagi, saya mengekspansi relasi saya yang kemarin-kemarin hanya di Jakarta, kini sampai di Bandung. Saya mulai mengenal mereka real life dengan melakukan follow ke account Twitter mereka dan saya masih menjalin hubungan sahabat dengan orang-orang tersebut. Kelas 11 SMA, setelah sekitar 1-2 tahun vakum dari Dota, saya kembali memainkannya di server NusaReborn dengan akun yang aku dulu pernah buat di server tersebut untuk iseng-iseng. Sejak saat itu, walaupun game yang lebih sering saya mainkan adalah WoW, akan tetapi ketika teman-teman saya mengajak untuk bermain DotA, saya tidak menolak.

Di WoW, saya juga seseorang yang berjiwa kompetitif. Saya sangat antusias untuk menaikkan rating arena untuk mendapatkan gear-gear yang lebih bagus. Arena di game ini saya mainkan pada mode 2v2 dan 3v3, dimana sebuah pertandingan harus terdiri dari 2 atau 3 orang per tim. Saya mencapai rating ~1500 di 2v2 dan ~1400 di 3v3 (saat itu sudah termasuk tinggi untuk server yang kapasitasnya ~600 orang saja). Akan tetapi, semua itu berakhir ketika emosi saya meledak saat menjalani pertandingan 3v3. Kami bertemu tim yang melakukan damage yang tidak masuk akal. Ada pengakuan dari teman saya juga yang mengatakan bahwa ada “keluarga kerajaan” yang dibantu oleh game master untuk menaikkan rating arena mereka. Setelah itu, saya melakukan delete account dan pindah ke server Molten-WoW.

Setiap hari, sama. Sekolah, pulang, main. Main apa? Kalau tidak WoW, ya DotA. Biarpun saya terus bermain game-game yang mungkin pembaca rasa aneh, saya tetap manage untuk mendapatkan 2 besar di kelas setiap semester. Saya tidak tahu, mungkin karena teman-teman saya tidak terlalu semangat untuk berkompetisi sedangkan saya, yang sudah diasah di game jiwa kompetisinya, sangat membenci kekalahan. Mungkin itulah alasan saya sangat try-hard saat di SMA, walau ya, belajarnya selalu deadliner. Pada saat saya kelas 2, saya juga memenangi lomba pidato di sekolah saya. Lagi-lagi, partisipannya sedikit dan saya ikut itu karena saya memiliki interest pada topik yang saya bawa waktu itu.

Memasuki kelas 3 SMA, saya mulai meninggalkan WoW private server dan mencoba Official Server, dimana per bulannya harus subscribe ~$14 (that’s quite a money). Saya juga masih bermain DotA bersama teman-teman saya di Nusa dan saat itu saya belum tertarik untuk bermain Dota 2 karena saya merasa tidak cocok dengan grafik yang ditawarkan game tersebut. Pertengahan tahun 2012, saya lulus SMA dengan total nilai ~54,xx (sialnya jatuh di pelajaran Bahasa Indonesia). Saat wisuda, saya juga mendapatkan penghargaan juara umum untuk IPA. Terkait PTN, karena saya gagal SNMPTN Undangan, akhirnya saya terpaksa mengikuti ujian tulis. Alhamdulillah lulus ujian tulis masuk STEI ITB.

Well, actually semua cerita diatas itu belum ada apa-apanya dibandingkan cerita saya ketika di ITB. Di ITB inilah, dimana jiwa eSports saya dibangun. Saya memulai karir eSports dengan mengikuti turnamen-turnamen seperti Qualifier MPGL SEA (Mineski Pro Gaming League), Geecko Wicked Sick Tournament, dan SEA Dragon Battle pada jenjang internasional. Pada jenjang nasional, saya mengikuti turnamen-turnamen seperti Maindota2 Weekly Madness, IGLStar, Page Premier League, Joindota League Indonesia Division, dan PAGE Elite Champions-League (soon).

Mengikuti turnamen-turnamen tersebut, saya seringkali disebut freak oleh teman-teman saya. Akan tetapi, saya membuktikan pada TPB saya tidak mengulang pelajaran sama sekali (apabila Anda berpikir pointing out the fact itu adalah sombong, sebaiknya Anda segera ke rumah sakit jiwa), saya mengulang 1 mata pelajaran pada semester 3 karena saat itu saya masih kaget dengan mata pelajaran prodi dan sedang mendapat amanah penting di unit. Jujur saja, semester 3 saya sangat kesulitan mengatur waktu. Kaderisasi unit, osjur, turnamen, tugas-tugas akademik, dan acara-acara himpunan harus diatur sedemikian sehingga tidak ada yang bentrok dan dapat dijalankan dengan lancar. Saya merasa beruntung saya hanya mengulang satu mata pelajaran, saya rasa seharusnya bisa lebih dari satu. Nilai-nilai saya pun boleh dibilang terjun bebas dibandingkan semester 2 (kalau mau tahu, saya panen C di semester ini). Semester 4, setelah beban ketua kaderisasi terlepas secara simbolis (walaupun tetap harus dipantau secara berkala, karena kaderisasi tidak hanya aktif, tetapi juga pasif, yaitu berkembang bersama) saya merasa lebih dapat mengatur waktu dibandingkan semester 3.

Hal yang paling saya takutkan adalah ketika saya harus menjalani turnamen dan mengerjakan tugas besar pada hari yang sama. Hal itu adalah salah satu hal terberat yang harus saya pilih. Saya ingin mengejar mimpi saya, tetapi saya tidak boleh meninggalkan kewajiban yang dipikul. Akhir dari semester 4 pun lebih baik daripada semester 3, dengan tidak ada mata pelajaran yang mengulang.


Capek dengerin elo cerita hidup akademik elo, cerita dong tentang game-game yang elo banggain!

Okey, udah kan dijelasin secara rinci (mungkin tidak terlalu) perjalanan akademik saya. Sekarang pengen ngasih beberapa poin nih ke pembaca, siapa tahu ada yang masih salah persepsi sampai saat ini.

  1. Emang apa enaknya sih, ngegame? Bukannya nggak sehat ya jadi gamer? Wets, kata siapa? Saya jadi gamer juga tetep sering olahraga tuh, at least push-up, sit-up, dan lain-lain di kosan. Kalau lagi senggang weekend mungkin datang ke lapangan tenis C untuk latihan panahan. Masih belum percaya? Ada role modelnya lho, nih baca disini -> http://fnatic.com/content/96015
  2. Emangnya main game dapat uang? Mendingan ikut lomba-lomba bikin aplikasi atau apapun yang bisa bikin uang. Wah yakin main game gak bisa dapat uang? Mungkin yang Anda refer itu gamer-gamer casual, yang main game cuma for fun doang, kalo saya sih main game untuk kompetitif. Untuk memenangkan uang. Daripada saya main game untuk casual, mending saya ikutan lomba-lomba programming atau hal-hal lain deh. Masih nggak percaya? Coba aja lihat The International 1, 2, 3, 4, apakah mereka hadiahnya puluhan juta rupiah? LEBIH BRO! TI1 sama TI2 ~$1,6M prize pool per tahunnya, sedangkan TI3 prize poolnya naik lagi jadi ~$2,6M prize pool, sedangkan TI4 kemarin menjadi ~$10,xM prize pool. Siapa yang nggak mau sih, apalagi untuk juara 1 dapat sekitar 5 juta dollar untuk TI4 kemarin (masih kotor, belum dipotong pajak US dan porsi klub).
  3. Udah, main game itu buang-buang waktu aja. Mending cari hobi lain. Eh? Emangnya apa bedanya main game casual kalau dibandingin sama orang yang main futsal, basket, dan lain-lain hanya sekedar untuk olahraga atau hobi aja? Memangnya mereka menghasilkan uang?
  4. Okedeh, sekarang ceritain pengalaman terbaik elo selama karir game yang elo banggain itu! Hmm, terbaik ya? Kayaknya waktu Page Premier League kemarin. Tim gw ngalahin timnya KoaLa (ex. XcN, tim terbaik Dota Indonesia tahun 2007-2008 dan ex. RRQ, perwakilan satu-satunya indonesia di Qualifier SEA TI4) di kualifikasi, sehingga tim gw yang masuk 32 besar tim terbaik Indonesia. Sayangnya, ada permasalahan internal tim sehingga kami melanjutkan fase grup melawan 2 top team Indonesia lainnya, yaitu Zero Latitude (yang sekarang udah disband, saya merasa beruntung bisa ketemu mereka sebelum itu terjadi) dan ThePrime.SIAPA!? (yang isinya ada 2 orang ex. RRQ, yaitu Nafari dan bubu) dengan 1 orang stand-in. Tim saya mengakhiri fase grup itu dengan 0-6, tapi saya merasakan itu adalah best experience yang pernah saya rasakan. Saya masih ingat saya berteriak saat memenangkan base race lawan RevivaL, videonya bisa dilihat disini -> http://www.youtube.com/watch?v=jRJRieUYwJU. Best momen kedua mungkin pas kemarin hampir lolos kualifikasi SEA Dragon Battle Qualifier Indonesia, di finalnya ketemu lagi sama TP.SIAPA!? dengan roster baru dan saya rasa tim saya sudah berperforma jauh lebih baik daripada sebelum-sebelumnya, thanks to PPL.

 

eSports udah masuk olahraga kawan, sudah resmi IeSPA adalah bagian dari FORMI sejak pertengahan Juli lalu. Negara-negara tetangga sudah mulai menunjukkan taringnya di SEA, Indonesia? Selalu rata. Prestasi terbaik adalah RRQ di final ACG kemarin, sayang sekali mereka kalah pada final tersebut. Pada qualifier TI4 juga mereka gagal untuk mencapai top 4 grup. Apabila masyarakat kita terutama orang tua dan orang-orang ignorant lainnya masih berpandangan bahwa gaming COMPETITIVELY adalah sesuatu yang buruk, saya lebih memilih pindah kewarganegaraan ke Malaysia (ini serius), karena di sana eSports sudah diakui, sejak tim Orange masuk 3 besar di TI3, membawa pulang ~$250.000.


Epilogue

Jadi, apakah Anda masih menganggap bahwa orang yang main game for fun dan orang yang main game untuk berkompetisi adalah sama? Kalau sama, saya tidak tahu lagi harus berkata apa. Mungkin Anda beranggapan bahwa uang dan prestasi hanya bisa didapat melalui jalur yang itu-itu saja, tetapi saya tidak. Saya ingin mengekspansi dan mencari jalan lain. On a side note, tolong beritahu saya kalau ada gamer yang mendapatkan uang karena bermain just for fun. Tujuan saya bermain game dengan serius adalah untuk memenangkan kompetisi, untuk mendapatkan uang, untuk mendapatkan kebanggaan, mendapatkan nama, dan merepresentasikan bendera Indonesia di jenjang internasional. Tanpa alasan-alasan tersebut, saya tidak yakin jiwa kompetitif saya akan bertahan.

Apakah Anda masih beranggapan bahwa gaming bertolak belakang sama akademik? Saya berkata tidak. Terserah Anda berkata apa, tapi saya akan mengatakan, “Why not both? Prestasi tidak hanya didapat dari bidang yang kita tekuni di perkuliahan.”

 

 

2 thoughts on “Gamer kompetitif, kapan diakui oleh masyarakat Indonesia?

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s