Kicauan Sore: Perhatikan Diksi Anda!

Prolog

Hari ini, kembali lagi saya mendengar suatu pembicaraan yang intinya menuduh bahwa gamer dan gaming adalah sesuatu yang buruk. Di ITB. Kampus yang katanya kaya akan intelektual. Sayang sekali masih ada (saya tidak sebutkan semua, saya sebutkan MASIH ADA) kaum-kaum yang mungkin enggan melihat dari sudut pandang yang lain. Ayolah gan, di SBMPTN aja udah dikasi tau kalo “seluruh” ato “semua” itu kemungkinan salahnya besar (lagi-lagi, artinya MASIH ADA kemungkinan untuk benar walaupun kecil)… apa susahnya kalau sebelum melontarkan kata-kata yang bersifat menghakimi, dilihat dulu dari sudut pandang yang lain? Atau paling tidak, gunakanlah diksi yang tepat untuk konteks yang sedang dibicarakan.


Isi
Sebagian (bukan semua) dari Muslim, atau mungkin Muslim “palsu”, ngebom. Islam dituduh berdakwah dengan terorisme. Banyak yang membantah.
Mari kita mulai dari contoh kasus sederhana seperti pada kutipan di atas. Kenapa saya gunakan kata “palsu”? Karena bisa saja yang melakukan hanya berpura-pura sebagai Muslim, sehingga Islam yang akan menjadi fokus utama media. Sering sekali ketika ada suatu berita tentang bom, saya cukup yakin sebagian dari populasi bumi mengira hal tersebut adalah ulah Muslim. Gambar di bawah merupakan sebuah gambar yang diambil dari Facebook “The Muslim Show”. Post aslinya dapat dilihat pada link berikut ini.
Saya bukanlah seorang remaja masjid, akan tetapi, ketika saya mendengar orang-orang berkata, “jangan ikut organisasi-organisasi Islam di kampus ya, siapa tahu itu jaringan teroris”, dan sebagainya, saya pribadi merasa cukup kesal. Faktanya, saya dua kali mengikuti kegiatan liqo’ selama berkuliah di ITB (satu ketika masa TPB, satu ketika mengambil mata kuliah Agama dan Etika Islam) dan saya tidak mendapatkan hal lain selain ilmu-ilmu mengenai Islam yang berguna. Tidak ada unsur radikalisme di dalamnya. I know right, lagi-lagi ke penggunaan diksi dalam konteks tertentu. Seharusnya yang benar adalah “Jangan mengikuti organisasi Islam yang tidak kredibel”. Berbeda kan, maknanya? Yang satu menghakimi bahwa SEMUA organisasi Islam di kampus itu tidak baik, sedangkan yang satu menghakimi bahwa ADA organisasi Islam di kampus yang tidak baik, sehingga kita diharuskan untuk berhati-hati. Lagi-lagi, hati-hati bukan berarti tidak boleh, kan?
Sebagian (bukan semua) dari gamer, atau mungkin gamer “palsu”, mendapatkan prestasi buruk. Gaming dituduh merusak prestasi seseorang. Sedikit yang membantah.
Pada kutipan diatas, lagi-lagi saya menggunakan kata “palsu”, karena bisa saja orang yang berprestasi buruk menggunakan game sebagai alasan atau excuse. Jadilah gamer dan gaming sebagai sesuatu yang buruk di mata masyarakat. Terima kasih, siapapun yang pertama kali menjadikan hal tersebut alasan atas prestasi buruknya. Semoga Tuhan memberikan Anda balasan yang setimpal karena banyak gamer yang hidupnya tersiksa padahal mereka memiliki potensi untuk bercahaya.
Perbandingan yang aneh, bukan? Mungkin Anda mengira bahwa gaming dan Islam tidak bisa dibandingkan, tetapi kenyataannya demikian. Mengapa orang-orang mampu untuk melihat Islam dari sudut pandang lain, tetapi untuk gaming tidak? Banyak orang yang protes mengenai media terlalu meliput Paris sebagai sasaran bom padahal Timur Tengah juga sedang panas. Mengapa tidak ada orang yang protes mengenai orang-orang yang menghakimi gamer dan gaming itu buruk padahal ada gamer yang dapat berprestasi dan menuai hasil yang memuaskan?
http://a2.espncdn.com/combiner/i?img=%2Fphoto%2F2016%2F0113%2Fr43701_1296x518_5%2D2.jpg&w=1006&h=402&scale=crop&location=origin
Gambar di atas adalah stadion dimana The International 2015 dipertandingkan, sebuah turnamen yang berhadiah 82230000000 (atau 82 milyar) rupiah bagi juara pertama. Gamer itu buruk? Berdasarkan link ini, Peter “ppd” Dager mengatakan bahwa Syed “Sumail” Hassan membelikan orang tuanya sebuah rumah dari hasil juara 1 The International 2015.
PPD on stream: Sumail used his TI money to buy his parents a house
Gamers dan gaming selalu buruk? Think again. Anda sudah ngapain saat berumur 16 tahun? Beliin orang tua Anda sebuah rumah? Indonesia tidak bisa maju di e-Sports scene, mungkin disebabkan karena stigma yang demikian. Constraint psikis yang diberikan oleh masyarakatnya sendiri sehingga menghambat perkembangan.

Epilog

Tolong yah, sebagai kaum yang berintelektual, saya tidak peduli Anda dari universitas manapun, lulusan manapun, tolong diksinya diperhatikan. Jangan asal menghakimi sebelum melihat dari sudut pandang yang lain.
Thanks for reading my “tweet”. Selamat malam.