Perjalanan selama setahun: Menuju dan di ITB

Hari ini, pengumuman undangan bagi angkatan 2013. Selamat bagi mereka yang diterima tapi jangan patah semangat bagi mereka yang belum. Dunia ini masih terlalu panjang bagi kalian untuk patah semangat disini. Saya, tahun lalu merasakan penderitaan yang sama dengan mereka yang tidak diterima hari ini. Waktu itu, 26 Mei 2012, jam 5 sore. Saya juga tidak diterima. Saya menyesal karena saya banyak melewatkan (atau menyia-nyiakan) kesempatan emas, terutama ketika mendapatkan kesempatan untuk melangkah ke tingkat nasional Olimpiade Sains Nasional Fisika saat saya masih duduk di kelas 2 SMA.

Hari itu, saya masih ingat. Saya diberi nasihat oleh senior saya dari FTTM 2011. Dia berkata, “Sesuatu bakal bisa lo hargain kalo lo berjuang keras untuk meraih hal tersebut.” Dia juga bilang, “Sekarang tenang aja dulu, besok baru… berjuang keras– sekeras-kerasnya yang lo bisa.” Sejak hari itu, saya belajar giat. Tidak hanya belajar, saya juga mencoba untuk berbuat baik kepada semua orang… hingga pada hari-H SNMPTN, 12 dan 13 Juni 2012. Pelukan yang erat dengan orang tua saya cukup menjadi motivasi saya untuk melangkah tegap ke tempat ujian. Saya juga tetap mencoba untuk berbuat baik selama 2 hari itu. Ada orang yang membuang sampah rautan pensil sembarangan, saya ambil kertas dari tas saya, saya pungut lalu saya masukkan tempat sampah. Saya juga meminjamkan rautan kepada orang yang membutuhkan sebelum ujian berlangsung, tentunya. Saya percaya bahwa kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. Saya hingga kini masih ingat 2 hari itu. Tes Potensi Akademik, 72 dari 75 soal saya kerjakan. Tes Kemampuan Dasar, 43 dari 45 saya kerjakan dan 2 soal itu adalah Matematika Dasar. Tes Kemampuan IPA, saya kerjakan 46 dari 60 soal. Saya mengosongkan 8 soal Matematika IPA, 4 soal Fisika, 2 soal Kimia, dan 1 soal Biologi. Hari itu, saya berpikir pasti banyak anak yang mendapatkan lebih banyak daripada saya. Sejenak kemudian saya mulai merenung dan menyesal, tetapi kemudian saya percaya. Saya percaya karena saya sudah melakukan yang terbaik, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik pula.

Fast forward menuju 6 Juli 2012, jam 5. Saya menunggu didepan laptop hingga jam 7. Saya tidak makan, tetapi tetap sholat. Walaupun nervous, gugup, dan takut… saya tetap memberanikan diri untuk melihat hasilnya bersama ayah saya. Saya sudah memasukkan semua data yang dibutuhkan, tinggal menekan tombol ‘OK’. Saya tidak berani, tapi kata ayah saya, “Sudah, dicoba saja.” Saya klik ‘OK’, dan malam itu menjadi salah satu malam yang paling membahagiakan dalam hidup saya.

Memasuki hari pertama matrikulasi, saya masuk kelas yang hingga saat ini saya masih sangat dekat dengan mereka, K-31. Minggu pertama, kami mengadakan futsal dan esoknya kami main DotA bareng. Bener-bener membahagiakan. Tetapi kebahagiaan itu mulai pudar ketika saat-saat kuliah menyerbu. Hari pertama, dosen kami tidak datang. Namanya Ibu Prastuti Wulandari, dia mengajar Fisika. Kami langsung ke GKU Timur untuk mengikuti kelas PTI (Pengenalan Teknologi Informasi). Eh, apa bener itu sebuah pengenalan? Sepertinya tidak… di STEI, kami mendapat PTI-A. Berbeda dengan PTI-B terutama di UTS, PTI-A cenderung menulis algoritma sedangkan PTI-B cenderung mengartikan sebuah algoritma. Dosen PTI saya adalah Pak Bayu. Dia demen banget mengucapkan kata “elegan”. Contohnya, “Ya, menulisnya boleh saja if (ada=true), tapi tidak elegan. Lebih elegan jika if (ada) langsung saja.” Begitu deh, memang dosen ITB bermacam-macam. Setelah kelas PTI, kami menuju kelas Kalkulus dan disana, saya bertemu dengan seorang dosen yang sangat hebat, namanya Johan Matheus Tuwankotta, dipanggilnya Pak Theo. Dia adalah dosen yang lucu, tapi disatu sisi dia sangat senang yang namanya metode anti-mainstream. Dia mengajari kami berbagai metode dari berbagai perspektif, seperti lewat geometri. Dia sangat senang sekali bermain seputar geometri, walaupun saya sampai sekarang belum mengerti sepenuhnya apa yang dia ajarkan selama setahun, maaf ya Pak… tapi saya seneng loh diajarin sama Bapak, apalagi pas sesi motivasi setiap akhir semester :P

Hari Selasa, pelajarannya ada Kimia, waktu semester 1 dosennya Barnas Holil, dipanggilnya Pak Barnas. Dosen ini juga lucu, dia demen banget ngetroll, demen demotivasi orang. Contoh demotivasinya gimana aja sih? “Kalian, soal begini saja tidak bisa. Gimana nanti UTS?” “Tidak apa-apa kalo nanti nggak bisa UTSnya. Masih ada tahun depan.” “Buat apa belajar capek-capek, kan bisa saja kuis 100 terus, tapi pas mau masuk ruangan ujian sakit, jadinya E nanti.” Kira-kira begitulah, demotivasi ala Pak Barnas. Dia juga sering demotivasi membawa-bawa kata ‘poliklinik’, hahaha. Sehabis pelajaran Kimia, kembali lagi ke Kalkulus… bersama Pak Theo. Pak Theo juga suka ngetroll, kayak gini, “Kalian kalau tidak bisa lulus nggak apa-apa kok. ITB masih buka tahun depan.” Kurang lebih sama kayak Pak Barnas. Lucu. Kocak. Sehabis kelas Kalkulus, ada jeda 1 jam sebelum kelas Bahasa Inggris. Namanya, Ibu Dwi. Saya dapet kelas presentasi (PR), asik pokoknya. Kelas PR cuma presentasi-presentasi aja, it’s all about communication and presence. Sering-sering masuk aja dan aktif ketika pelajaran, harusnya A udah ditangan… harusnya. Untuk beberapa dosen lain mungkin nggak. Sehabis pelajaran Bahasa Inggris, ada tutorial Fisika… bersama Bu Wulan. Besoknya Rabu. Wah, Rabu ini kadang-kadang jadi nightmare bagi sebagian anak STEI… atau emang selalu nightmare. Ada praktikum PTI-A yang brutal disusul oleh praktikum Fisika di LFD atau Kimia di Lab Kidas. Kok brutal praktikumnya? Ya 2 minggu pertama kita cuma ngetik ulang source-code yang ada, eh minggu ketiga disuruh bikin hangman. What the…?! Well, begitulah. Praktikum Fisika dan Kimia nggak terlalu ribet sih, yang bikin ribet TP atau bikin jurnalnya aja. Beberapa emang ada yang rese.

Hari Kamis… hari gabut, katanya. Jam 7-9, kuliah Fisika. Jam 9-11, kosong. Jam 11-1, kuliah Kalkulus. Jam 1-3, kosong. Jam 3-5, pelajaran KPIP (Konsep Pengembangan Ilmu Pengetahuan). Dosennya ganti-ganti. Kelas saya sampe 3 kali ganti dosen, sampe yang terakhir kali dosennya namanya Pak Fredy. Orangnya lucu, dia bener-bener interaktif. Kelas yang laen mungkin tiap ketemu bakal kuis, ini tiap ketemu cuma diskusi, diskusi, diskusi… nggak ada kuis. Ada plus minusnya sih tapi… Intinya, hari Kamis itu suka gabut. Oh iya! Pak Theo itu orangnya sering nggak masuk kelas. Alasan dia yang paling ngetop, “Mahendra, maaf. Hari ini saya sedang kurang fit. <nama hari> kita kuliah.” Mahendra adalah nama ketua kelas Kalkulus saya.

Hari Jumat, gabut juga. Cuma masuk jam 7-9 demi kuliah Kimia. Bener-bener absurd. Semua berjalan normal hingga praktikum-praktikum PTI yang nggak masuk akal dan UTS mulai menyerbu. Ya, begitulah. Bagi sebagian orang, mungkin soal UTSnya mudah… tapi bagi orang-orang yang lain… media sosial adalah sasaran galau setelah UTS. Banyak kalimat mutiara yang muncul setelahnya. Gak percaya? Makanya masuk ITB. Banyak juga yang bilang nggak bisa abis UTS, taunya pas muncul-muncul indeksnya A. Minta digigit kadang-kadang. Oh iya, matkul Fisika ada yang namanya RBL (Research Based Learning), nah waktu semester 1 ini, bikin balon udara… pengeluarannya gak boleh lebih dari 100 ribu kalo gak salah. Pokoknya seru, menderita banget pas ngeliat balon hasil bikinan capek-capek kebakar ato cuma ngembang, gak melayang… tapi kalo sekalinya terbang, wah udah kayak apaan senengnya =)) Meanwhile, KPIP tugas besarnya itu presentasi didepan terus ngasih laporannya via e-mail ke Pak Fredy.

Selama setahun ini, salah satu pengalaman saya yang seru adalah suporteran di TPB Cup. Pernah maen juga sekali, tapi kalah sama FITB 1-2. Tipis. Nyesek. Abis maen, sedih banget rasanya gara-gara gak tampil all-out jadi kiper. Terus ngeliatin penonton, masih nyemangatin padahal kalah… sedihnya ketutup sama rasa seneng. Abis itu ada seorang teman saya yang ngajakin ke Salman buat sholat ‘Asr dan dijalan dia ngajak saya ngobrol… gak tau maksud aslinya dia apa, tapi yang jelas… itu bikin saya sulit untuk sedih. Sejak saat itu, saya berkata pada diri saya sendiri, “Saya harus mendukung teman-teman yang udah dukung saya hari ini, saya mau balas budi mereka.” Sejak hari itu, tiap STEI main kalo nggak ada acara unit atau acara lain, langsung aja dateng, supporteran. Sayang sekali di cabang futsal laki-laki, kami kurang beruntung. Tapi yang cewe bisa juara 1, mantep lah!

Di akhir tahun, semua orang pada pulang… mostly. Saya cuma sampe tanggal 2 Januari, abis itu balik lagi ke Bandung. Libur nggak nyampe 2 minggu, 1 mingguan saja mungkin. Buat apa? Udah terlanjur daftar jadi divisi Dokumentasi Olimpiade KM ITB yang ke-7. Sebenernya kecewa, pengennya dapet divisi Video Editing, tapi karena yang dateng dokum dikit, jadi mau ga mau ngedokum foto… sedih. Padahal pengen ngasah skill edit video juga… tapi ga nyesel. Pertandingan futsal, voli, bola, sama tenis mejanya seru-seru. Sejak hari itu, pengen banget berusaha keras meningkatkan skill jadi kiper apapun risknya. Selama liburan juga ada kaderisasi dari Pasopati (Unit Panahan), yang ekstrimnya, seminggu selang-seling satu hari latihan yang cukup berat selama setengah hari lalu di hari Sabtunya, kami menuju Bumi Perkemahan Batukuda di Cibiru. Pas hari Sabtunya, banyak kegiatan dari masang tenda, tracking, sampe ujung-ujungnya push-up sebelum tidur. Singkatnya pas dini hari di hari Minggu kami dilantik. Pulang-pulang sampe kosan jam 10, terus langsung cabut lagi buat futsal. Sampe kosan lagi… jam 2. Udah bawa makanan, tapi jam setengah 3 tepar sampe jam 11 malem. Untung makanannya nggak kenapa-kenapa, bukan kuah. Kalo kuah, udah gak enak pasti. Terus besoknya kuliah. Nah, di semester 2 apa sih yang bikin STEI berbeda dari semester 1?

PERTAMA DAN TERAKHIR! DRE! Dasar Rangkaian Elektrik. Fundamental of Electric Circuits. Ya, katanya “Fun”damental. Bener-bener fun. Saya kebagian dosen namanya Pak Yanuarsyah Haroen, biasa saya sebut dia Pak YeHa. Sebenernya saya tahu niatnya baik, tapi dia bener-bener ekstrim. Meanwhile kelas lain mendapatkan 2 SKS, dia udah kayak ngasih 6 SKS dalam seminggu. Materinya bener-bener dikebut, tutorialnya dateng belakangan. Tugas-tugas pas awal semester menggunung, parah deh pokoknya. Sampe-sampe mesti kekosan temen yang jago DRE buat nanya-nanya. Nah, kapan sih kuliahnya DRE? Harusnya Selasa jam 7-9 dan Jumat tutorial dari jam 9-11, tapi khusus kelas saya tidak ada tutorial sampe menjelang UTS dan hari Senin yang jam 9-11nya kosong, diisi sama Pak YeHa. Enaknya, kita kelasnya di Laboratorium Penelitian Konversi Energi Listrik. Didalemnya banyak banget benda-benda asing nan aneh. TPB Cup juga masih berjalan di Semester 2. Ada catur, basket, voli, badminton, dan lain-lain… Hari demi hari dilalui dan semakin hectic ketika PR DRE, tugas-tugas besar seperti TTKI, SAS, dan RBL saling berbenturan. Belum lagi saat itu adalah saat-saat UTS. Pulang malam diatas jam 9 adalah hal yang biasa di semester 2. Jadi, siapkanlah mental untuk kedatangan semester 2 ini B-) RBL Fisika semester 2 saya sih, bikin senter kocok. Jadi dikocok-kocok gitu, entar kapasitornya keisi, terus bisa nyala deh… tapi prakteknya gak semudah itu, lho. Tugas besar SAS, bikin majalah. Gak susah, gak gampang. Yang susah sebenernya ngumpulin orangnya… :P Kalo TTKI, kita suruh bikin karya ilmiah. Lumayan buat modal awal skripsi, biar entar gak sering-sering salah.

Di TPB Cup Basket, STEI mendapat juara 3 putra dan di catur mendapatkan juara 1. Di voli putra, STEI juga mendapatkan juara 1. Masalah suporteran yang dulunya sepi, sekarang kami sudah mulai ramai. Saat final voli itu, saya dateng. Sebelomnya, jarang banget dateng soalnya sibuk unit. Pas hari itu, wah parah lah. Keren banget massa STEI ’12. Suaranya bener-bener menggelegar, menggetarkan lapangan CC. Seiring waktu berjalan, tim badminton STEI juga mulai merangkak menuju final. Kami juga mulai mengadakan rapat-rapat seputar acara pengabdian masyarakat. Tidak hanya itu, kami juga cukup disibukkan oleh PLO (Professional and Leadership Orientation). Semuanya berakhir baik. Biarpun tim badminton kami kalah di semi-final saat itu, suara massa STEI ketika jam 9 malam masih membahana ke seluruh pojok Gor PDAM. Kami pun menjadi juara 3 badminton dan best supporter. Di PLO, kami mendapatkan banyak sekali pelajaran dari segi kehidupan engineer, prodi-prodi yang akan dipilih, dan penurunan nilai-nilai di STEI. Di Day 4 PLO, di Plaza Widya, kami semua mendengarkan dan menyaksikan sesuatu yang sangat fenomenal. Orasi-orasi oleh massa HME dan HMIF beserta mars-mars dari 2 himpunan tersebut menutup Day 4 PLO dengan indah. Sebelumnya, kami juga melakukan Flashmob satu angkatan sebagai bukti bahwa angkatan kami adalah angkatan yang kompak. Terakhir, kami mengadakan pengabdian masyarakat di Pesantren Kolong Nurul Hayat, di bawah jembatan layang Pasupati. Melelahkan, tetapi kami bahagia karena bisa berbagi rasa dengan anak-anak jalanan.

Sekarang, kami tinggal menunggu hasil ** dan penjurusan. Penjurusan ini tentunya akan menentukan apakah seseorang akan mengikuti MBC ataupun SPARTA. Sekian cerita dari saya, mungkin kurang panjang, tapi kalau panjang-panjang sepertinya capek juga nulisnya, hehe. 165!

Leave a Reply - No foul language and spam please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s