Senior: Part 1

Prolog

“Kakak”. Saya tidak tahu, atau mungkin tidak ingat siapa yang mengajarkan atau mengenalkan saya dengan istilah tersebut. Mungkin orang tua saya, karena saya adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Saya tidak begitu ingat, pokoknya istilah tersebut tiba-tiba rasanya sudah saya ketahui dan saya gunakan sampai sekarang. Mari kita mulai cerita ini dari… zaman saya masih anak-anak. Zaman dimana kita tidak terlalu mempedulikan makna hidup. Hidup hanya terdefinisi menjadi dua, “sedih” atau “senang”. Kalau senang, ya ketawa. Kalau sedih, ya menangis. Nggak ada saat-saat bimbang harus sedih atau ketawa seperti sekarang.


Konten

Bagian konten ini saya pecah menjadi empat bagian, yaitu Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Taman Kanak-kanak (1999/2000-an)

Back then, sekitar tahun 1999/2000an, saya tidak tahu kapan harus menggunakan istilah “kakak” ketika memanggil kedua kakak saya. Saya memanggil mereka, ya langsung namanya saja. Kalau zaman sekarang, hal ini biasanya terjadi karena dua orang yang memiliki gap umur yang besar sudah sangat akrab, sehingga tidak dibutuhkan lagi prefiks “kakak” ketika memanggil. Tapi, di masa lalu, mungkin saya terlalu lugu, baru juga hidup 5-6 tahun dan belum bisa ngapa-ngapain, tapi kesannya sok akrab dengan kedua kakak saya sendiri dengan tidak menggunakan prefiks “kakak” ketika menyapa dan memanggil. Kakak saya yang pertama lahir tahun 1986 dan kakak saya yang kedua tahun 1988. Saya sendiri, tahun 1994. Kedua kakak saya ini sering sekali main game. Ya, sesuatu yang masyarakat kini cap sebagai sesuatu yang jelek. Menurunkan produktivitas, misalnya. Saya? Saya hanya melihat mereka main. Mungkin berbeda dengan anak-anak yang lain, saya waktu kecil bisa merasakan hype memainkan game tanpa memainkannya secara langsung. Makanya saya tidak pernah meminta main hingga merengek-rengek kepada orang tua saya. Mereka lumayan sering (kayaknya?) berdebat saat main game, biasanya yang mendamaikan kedua orang tua saya, karena lagi-lagi saya waktu itu masih manusia yang lugu dan tidak tahu apa-apa, apalagi cara melerai kedua orang yang sedang berdebat. Zaman-zaman dimana Super Nintendo dan Playstation adalah dua hal yang cukup “mewah” karena saat itu komputer yang dipunya belum bisa mengemulasikan console games. Yo, untuk masuk Windows saja harus ngetik “win” dulu di layar hitam.

Sekolah Dasar (2000-2006)

Tahap TK sudah berakhir, tapi rasanya tahap anak-anak (atau kekanak-kanakan?) belum berakhir. Hidup masih sama, begitu juga dengan sekolah. Saya merasa SD saya tidak banyak hal yang dapat diceritakan. Interaksi antarangkatan sangat buruk, jadi cerita masa SD ini difokuskan ke kedua kakak saya saja. Kedua kakak saya masih bermain console games bersama, sampai sepertinya tahun 2003, saat itu saya kelas 3 SD. Kakak saya yang kedua upgrade PC yang jadul jadi Windows XP. Sejak saat itu, kedua kakak saya mulai berbeda haluan dalam game, yang pertama lebih ke console games, yang kedua lebih ke PC games. Kakak saya yang pertama dulu sering mengajak saya untuk main di kamarnya, tetapi tidak untuk kakak saya yang kedua. Kurang tahu kenapa. Tetapi at the end of the day, saya lebih senang memperhatikan kakak saya yang kedua main game di PC. Wait what? Anak-anak zaman dulu bukannya pengennya MAIN, bukan MENONTON? Hell, no. Saya menikmati setiap detik menonton orang yang saya anggap “lebih baik” dari saya di suatu game memainkan game tersebut. Saya bisa belajar banyak. Lalu akhirnya, setelah menonton sekian lama, mungkin sekitar tahun 2004, saya mulai mencoba Counter-Strike, my very first First-Person Shotter (FPS) game. Setelah dipikir-pikir, saya sangat bodoh saat dulu. Kenapa lawan bot aja choking (kesulitan)? Bot hampir nggak pernah lempar HE/Flash/Smoke atau dan bahkan tetap menghadap depan kalau ada Flash lewat didepan mukanya. Terus masih suka kalah. Selain CS, saya juga mempelajari beberapa game RTS (yang lagi-lagi, saya tahu karena saya menonton dari kakak saya yang kedua), yaitu Red-Alert dan Warcraft III dan satu game RPG, yaitu Diablo II. Dulu saya seneng banget nontonin kakak saya yang kedua maen Red-Alert tapi pakai Soviet (yang bukan Allied), karena kalau Allied sangat faceroll, tinggal bikin Chronosphere dan 9 Prism Tank, lalu instantly win game karena lasernya Prism Tank sangat-sangat-sangat overpowered (OP), walau ditinjau dari segi ketahanan tank, Prism Tank cukup lemah kalau dikasih siege damage. Diablo II actually lumayan serem buat saya dulu bahkan pas nonton. Banyak monster-monster nggak jelas. Apalagi kalau tempatnya gelap. Untung nggak sampai kebawa tidur. Akhirnya dulu pas nyoba main Diablo II, selalu hire companion atau pakai karakter yang bisa punya summoned unit, biar kasarnya “nggak sendirian”. Padahal yang sendirian justru paling OP, kayak Sorceress bisa pake skill Teleport buat nembus tembok, padahal kalau nggak pakai Teleport mungkin perlu waktu 5 menit sendiri buat ke balik tembok itu. Terakhir, Warcraft III. Ini RTS game kedua yang saya pelajari dari kakak saya yang kedua, tetapi saya merasa seneng banget sama game ini, nggak tau kenapa. Walaupun dulu saya belum tahu efisiensi dalam setiap pergerakan dan komposisi pasukan yang baik (cuma pakai pasukan template), tetep enjoyable ketika memainkannya. In the meantime, saya juga belajar main FIFA dari kakak saya yang kedua ini. Mungkin ada juga game-game lain yang saya pelajari, tapi game-game yang saya sebut diatas, itulah yang sangat berkesan bagi saya.

Dua tahun bermain lokal, lalu tahun 2006 saya pertama kalinya diajak oleh kakak saya yang kedua ini ke warnet. Ke dunia luar. Bertemu player-player lain yang juga manusia, bukan bot. Rasanya beda, jauh. Disitu saya pertama kali ngerasain bagaimana rasanya dikalahkan oleh seorang manusia (selain kakak saya yang kedua). Mungkin, saat ini jiwa “try hard” saya lahir. Sejak saat itu, rasanya saya memikirkan kekalahan sebagai suatu hal yang serius. Saya harus berusaha sekuat mungkin untuk tidak kalah. Saya tidak main untuk kalah. “I’m not going to lose to some random people anymore”, dalam hati saya.

Sekolah Menengah Pertama (2007-2009)

Kalau dibilang SMP adalah titik awal perubahan hidup saya, saya akan setuju. Impresi awal saya masuk SMP sudah mulai tidak enak dengan adanya MOS dan aturan bahwa murid-murid baru harus membawa makanan sendiri dan tidak boleh ke kantin terlebih dahulu, kesannya seperti perbedaan kasta. Sekolah, menurut saya, adalah tempat yang kurang nyaman. Setiap kali bel pulang berbunyi, yang ada di pikiran saya cuma satu, pulang untuk main game. Di saat ini, saya tetap masih sering main bareng kakak saya yang kedua (dengan menggunakan dua laptop murah, back then Warcraft III dan game-game lain masih playable dengan grafik yang tidak bagus-bagus banget). Sampai suatu saat, saya diajak oleh teman sekelas saya ke warnet buat main CS dan DotA gitu kalau nggak salah. Saya ikut dengan dia dan teman-teman yang lain yang “gamer” juga ikut. Saya ke warnet cuma buat main, nggak buat ngerokok atau melakukan hal-hal “aneh” lainnya. Di warnet deket SMP saya itu, ternyata ada juga kakak-kakak kelas yang sedang main disana. Singkat cerita, temen-temen saya kenal dengan mereka karena warnet tersebut. Biarpun mereka senior yang satu dan dua tahun diatas saya, saya tidak melihat adanya gap, walaupun saya tetap memanggil mereka dengan “kakak”, but this is something I have never felt before. Walaupun berbeda ibu kandung, kakak-kakak ini tetap bisa memberikan impresi bahwa mereka adalah orang yang seru dan bersahabat buat diajak ngobrol. Inilah hal yang hilang dari tahap SD saya. Kelas 7 SMP saya seru. Sangat seru, karena kehadiran orang-orang tersebut. Saya ingat, pada tahun pertama saya membuat ID Battle-Net Indogamers Junior saya. Awalnya, saya mencoba berbagai macam kombinasi nama, tetapi semuanya salah. Desperate, saya tidak tahu mengapa menekan tombol ‘i’ sekali, lalu ‘l’ tidak tahu berapa banyaknya lalu menekan ‘Enter’. It worked. Saya mencoba main di Battle-Net, seru bermain dengan orang-orang yang ternyata tidak kita lihat secara langsung dan dapat berinteraksi dengan mereka lewat chatOne day, saya ajak kakak saya yang kedua untuk main Battle-Net dengan ID saya, karena waktu itu dia belum punya dan kalau tidak salah sudah ditutup pendaftaran di Indogamers Junior. Felt like old times. Saya menonton kakak saya yang kedua ini bermain, tetapi bukan melawan bot. Melawan 5 manusia bersama 4 manusia lainnya (DotA adalah game 5v5). Di akhir cerita, kami berdua mendapatkan hiburan yang sama walaupun sebagai posisi yang berbeda (satu pemain, satu penonton).

Tahun kedua, saya tidak lagi sering main ke warnet karena di rumah sudah punya internet sendiri. Firstmed*a, saat-saat keemasannya. Masih bagus, jarang ada masalah. Hal ini… saya manfaatkan dengan tidak baik. Mungkin sangat buruk. Pada saat saya kelas 7, terdapat kakak-kakak kelas 8 dan 9 yang bisa memberikan “hangatnya persahabatan”. Di saat saya, sebagai seorang “kakak” bagi mereka yang masih kelas 7, saya lebih sering anti-sosial dengan langsung pulang ke rumah untuk bermain di dunia internet. Di sini, saya belum tahu bagaimana menjadi seorang senior yang baik. Hal ini berlangsung hingga saya kelas 9 SMP. Saya bahkan rasanya belum dapat mengetahui posisi saya di saat itu adalah sebagai “kakak” yang harus mengayomi adik-adiknya. Terlalu sibuk dengan kehidupan saya sendiri, kehidupan dunia maya, hingga saya melupakan fungsi sekunder saya di sekolah waktu itu. Diluar hal itu, saya tetap sering bermain dengan kakak saya yang kedua di World of Warcraft server privat Indogamers AMPM. These were good times. Saat ini, saya sudah jarang bermain bersama kakak saya yang pertama, karena ia cenderung lebih sering bermain game console.

Sekolah Menengah Atas (2009-2012)

Kalau SMP adalah titik awal perubahan hidup saya, maka SMA adalah titik puncak perubahan hidup saya. SMA saya bukanlah SMA yang terbaik, tapi bukan juga yang terburuk di Jakarta. Mungkin ditengah-tengah (saat saya masih bersekolah disana, mungkin sekarang sudah jauh lebih baik). Sama seperti SMP, masih ada yang namanya MOS-MOSan yang di-“panitia”i oleh senior-senior di SMA saya. Impresi saya pun masih tetap sama, bahwa MOS dengan pengemasan yang sama dengan waktu saya SMP adalah sesuatu yang tidak berguna, termasuk dengan adanya perbedaan kasta terkait penggunaan kantin bagi murid-murid yang baru masuk. It was not the worst, however. Ekspektasi saya adalah saya bisa kembali mendapatkan keseruan bermain bersama senior-senior seperti yang saya rasakan ketika saya SMP, tetapi ternyata tidak. Even worse, ada seorang senior yang dulu sangat dekat dengan saya ketika masih main di warnet, ketika saya sudah SMA dia sudah seperti tidak mengenal saya. Mungkin karena gap senior dan lingkungan SMA yang mengubahnya menjadi demikian. Suasana MOS membuat saya semakin yakin bahwa apa yang sebenarnya diterapkan oleh SMA saya pada masa-masa ini adalah salah. Saya tidak terima orang yang dulu sangat dekat dengan saya berubah menjadi “bajingan” yang seenaknya teriak-teriak di depan muka orang. Mungkin salah MOSnya. Mungkin salah orang-orang yang di sekitarnya yang menularkan “virus-virus” ketidakbaikan kepadanya. Atau mungkin salah dia sendiri karena tidak pandai memilih teman yang baik dan yang kurang baik. Mungkin, mungkin, mungkin. Mari kembali fokus ke cerita.

Ketika masih minggu-minggu awal masuk dan masih suasana MOS, beberapa kali saya melihat “premanisme” in action dengan adanya pemalakan. Terkadang, sedih. Biaya masuk sekolah sudah mahal, tapi kenapa masih aja malak? I mean, what was wrong in their head? Dan ajaibnya, hal ini lolos dari pengawasan staf-staf sekolah SMA saya. Literally, no one knew, kecuali murid-muridnya. Murid-muridnya yang jadi korban pun diam saja, karena kalau memberi tahu nanti dicap “tukang ngadu”. Wah, kalau dipikir-pikir seru juga kalau jadi kriminal, kalau misalnya ngadu ke pos polisi, nanti di cap tukang ngadu, terus akhirnya nggak jadi ngadu ke pos polisi. Begitulah pola pikir kebanyakan senior-senior saya yang menjadi oknum senioritas saat SMA dulu. Sepertinya mereka telat lahir, seharusnya mereka lahir di zaman batu dahulu, yang kuat yang menang. Suatu hari, di saat jeda istirahat, ada seorang senior yang tiba-tiba masuk dan teriak-teriak (untungnya senior yang ini bukan yang saya kenal baik waktu SMP, kalau iya mungkin saya udah lost faith in humanity forever). Teriak-teriaknya juga nggak karuan, “Lo semua anj*ng!”, yah begitulah more or less. Diakhiri dengan perintah bahwa murid-murid yang saat itu kelas 1 SMA harus botak semua. Out of nowhere. Yo, saya paling nggak suka ada orang yang messing around dengan penampilan saya, apalagi dipaksa oleh senior. Ketika dia bertanya apakah ada yang tidak setuju atau tidak, saya mengangkat tangan. Tapi saya melihat ke samping kiri dan kanan saya. Mana teman-teman saya?”, dalam hati saya. Saya tidak melihat ada orang lain yang mengangkat tangannya selain saya. Mungkin takut. Mungkin cari aman. Untungnya, para pahlawan kemerdekaan Indonesia berani melawan penjajah walaupun mereka lebih kuat, kalau tidak sekarang mungkin Indonesia masih dijajah. Pada akhirnya, saya (hampir) berantem dengan senior yang menyuruh kami semua untuk botak itu. Sejak hari itu, setiap kali ke sekolah, saya selalu merasa was-was. Was-was terhadap senior tersebut dan teman-teman saya sendiri. For some reason, saya merasa dikhianati teman-teman saya sendiri hari itu. No one stood by me to serve justice. Kalau yang mengangkat tangan ramai, worst casenya adalah akan terjadi keributan dan pihak sekolah akan tahu. Di akhir cerita, pasti yang menjadi tersangkanya adalah senior tersebut karena dia yang memulai perkara. Atau sebenarnya bisa juga saya dan teman-teman saya yang menjadi tersangka karena di Indonesia, yang membela diri seringkali jadi yang salah. Kakak saya yang pertama lumayan marah ketika mendengar cerita ini, sedangkan kakak saya yang kedua terlihat biasa saja. Mungkin sebenarnya dalam hati dia juga kesal, tapi tidak tahu. Dari kejadian ini, saya tahu sebenarnya kakak saya yang pertama bukanlah the best person when it comes to expressing things, tetapi ia punya hati yang baik.

Awal-awal masa belajar SMA adalah masa-masa yang paling tidak enak bagi saya. Saya selalu “berantem pandangan mata” dan “perang mulut” dengan senior-senior yang menjadi oknum senioritas dan teman-teman saya sendiri yang menjadi “perpanjangan tangan” senior-senior tersebut. But again, kehidupan dunia maya menyelamatkan saya, dan tentunya kakak saya yang kedua juga membantu saya menghilangkan kekesalan saya dengan bermain bersama. Tahun pertama terlewati, dengan satu pikiran yang terus muncul di kepala saya, “Bagaimana cara untuk menjadi senior yang baik?”. Sayang, saya bukan bagian dari organisasi sekolah waktu itu. MOS pada waktu itu, peran dari OSIS cukup besar. Tentu saja, OSIS kalau kata saya, easily corrupted karena mudah dipengaruhi oleh oknum-oknum yang menjadi pelaku senioritas. Well, I guess. Kalau saya tidak bisa melawan mereka secara langsung, maka saya akan melawan mereka diam-diam, dimulai dari cara yang katanya mereka “tukang ngadu”. Bermula dari situ, saya juga mulai menghimpun teman-teman yang saya percaya memiliki pemikiran yang sama dengan saya, bahwa seorang senior itu seharusnya mengayomi, bukannya menyuntikkan ketakutan ke adik kelasnya. Usaha saya dan teman-teman saya ini ternyata belum cukup. Senioritas masih tetap aktif dengan senior yang sama, sebut saja si X biar mudah, menjadi pelaku utamanya. Dari beritanya, ia memukuli murid kelas 1 SMA, wallahu a’lam. Untungnya, kali ini, berita tersebut berhasil menembus pihak sekolah, sehingga si X akhirnya diadili dan berdasarkan vonis sekolah, ia di drop-out. Senioritas yang tadinya cukup terang-terangan kini mulai surut, tetapi tetap bergerilya. Tentu saja dengan ancaman-ancaman tertentu. Tidak banyak yang bisa saya dan teman-teman saya lakukan. Kalau ada kegelapan, maka harus ada cahaya. Kami pada waktu itu, hanya bisa menerapkan posisi sebagai senior yang mengayomi. Mungkin kami tidak menolong mereka dari senioritas, tetapi paling tidak, kami membuktikan bahwa sebenarnya masih ada kok yang kontra terhadap senioritas saat itu. Hal ini saya lakukan terus sampai kelas 3 SMA, dan saya sendiri merasa senang ketika saya wisuda, saya mengenal banyak adik-adik kelas saya dengan cara yang seharusnya (bukan kenal karena didekati terus dipaksa menjadi tangan kanan untuk memalak uang). Alhamdulillah, ketika saya lulus, senioritasnya sudah tidak separah waktu saya awal-awal masuk. Walaupun cukup banyak cerita “menyebalkan” dari masa SMA ini, saya tersadarkan satu hal, bahwa sebagai senior, saya memiliki kewajiban untuk mengayomi adik-adik saya, yang tidak saya lakukan dulu ketika SMP. Seorang senior, seharusnya, memberikan kasih sayang kepada junior-juniornya sebagaimana seorang kakak kandung memberikan kasih sayang kepada adik kandungnya.


Epilog

Setelah saya lulus dari tahap SMA, saya lulus SNMPTN Tulis di STEI ITB. Hal pertama yang saya rasakan adalah matrikulasi bersama teman-teman lain yang juga lulus melalui jalur tulis. Program matrikulasi ini dibawa oleh seorang dosen dan seorang/dua orang kakak tingkat. Impresi pertama saya dari program matrikulasi ini, kakak tingkat di ITB baik-baik. Saya berkesimpulan seperti itu, padahal belum juga mulai OSKM. Belum beneran merasakan bagaimana kehidupan di ITB. Apakah betul impresi saya bahwa kakak tingkat di ITB baik-baik dan saya tidak akan menemukan kejadian yang sama seperti ketika SMA dulu? Apakah saya bisa menjadi senior yang baik di ITB nanti? Hmmmmm. Karena sekarang sudah mulai malas menulis, jadi ditunda dulu ya sampai bagian berikutnya x)

Advertisements