Surat Untuk Aku di Masa Depan

Prolog

Saya suka menulis, mengatakan, atau melakukan hal yang kontroversial. Dengan itu, saya dapat teringat akan hal yang saya tulis, katakan, atau lakukan di masa depan ketika saya akan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut. Saya akan mengintrospeksi diri saya sendiri, saya akan menjadi lebih terkontrol. Karena itu, tentu saja, disini saya akan menulis hal yang kontroversial untuk diri saya sendiri. Supaya saya menjadi lebih berhati-hati terhadap hal yang saya lakukan di masa depan. Supaya bisa berpikir sebelum bertindak. Jadi, semuanya berawal dari kegilaan saya terhadap kaum-kaum tua yang gila respek. Eits, tunggu dulu. Disini saya membatasi objek pembicaraan bukan terhadap kaum tua, tetapi kaum-kaum tua yang GILA RESPEK. Lagi-lagi, saya memberikan kejelasan spesifikasi objek yang saya bicarakan untuk mencegah banyak yang berkata, “Tidak semua kaum tua seperti ini, kok.Memang. Makanya, kalau Anda adalah kaum tua, jangan tersinggung terlebih dahulu. Lihat diri Anda, apakah Anda gila respek? Kalau ya, baru boleh merasa, kalau tidak ya, jangan. Saya secara pribadi sih ngefans banget sama mereka, karena saya senang mencari-cari kesalahan mereka. Hal yang paling saya kagumi dari kaum-kaum tersebut adalah, saking gila respeknya, mereka merasa selalu paling benar dari orang lain. Tidak pernah mau mengakui kesalahan mereka sendiri. Wah, kok bisa begitu? Jangan tanya saya, saya juga tidak tahu. Urusan masa lalu mereka yang membuat mereka seperti itu. Saya disini cuma berusaha supaya saya sendiri di masa depan tidak jatuh ke lubang yang sama. Semoga ketika saya membaca ini di masa depan, saya menyadari betapa kesalnya saya terhadap kelakuan tersebut sehingga saya tidak menjadi sosok yang saya benci di masa lalu kelak.


Konten

Untuk diriku, di masa depan. Halo, Aji di masa depan. Mungkin sudah lama sejak kamu menulis ini. Tanggalnya bagus juga lagi (menurut format bahasa Inggris, 1/7/2017). Semoga kamu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Semoga kamu juga mengingat waktu aku menulis surat ini, terbangun (randomly) di sepertiga malam untuk bermunajat, menulis surat ini sambil menunggu adzan Shubuh berkumandang, sholat lagi, lalu melanjutkan menulis surat ini. Semoga hidupmu di masa depan lebih berwarna daripada ini, paling tidak, bermanfaatlah bagi orang lain walaupun sedikit. Kalaupun tidak bermanfaat, ya jangan cari masalah sama orang-orang. Masih ingat nggak, kenapa aku menulis surat ini? Semua berawal dari post Facebook aku (kalau masih ada di masa depan, ya), beberapa waktu setelah Jum’atan di masjid dekat kantor di Cikutra. Kalau di masa depan, Facebook udah nggak ada, gimana? Nah, makanya setelah ini bakal aku copas isinya biar kamu nggak kepo. Kalau di masa depan, WordPress udah nggak ada gimana? Yaudah, aku juga bakal simpen post ini dalam bentuk softcopy supaya backupnya jadi 3 lapis.

For future parents, jangan menyalahkan anak kalian kalau misalnya cara kalian mendidik anak kalian waktu mereka kecil aja belum bener. Literally disgusted sama khotib yang bilang, “anak jaman sekarang susah disuruh sholat”, lalu menyalahkan mereka. Merasa udah bener mendidik mereka waktu kecil? Udah menjelaskan ke mereka pentingnya sholat? Kalau cuma disuruh aja tapi nggak dikasih tau the bigger picturenya, apalagi kalau nyuruhnya dengan cara yang tidak membimbing, yaudah jangan nyalahin anaknya lah. Anak bukan robot jadul yang bakal nurut disuruh ini itu tanpa dikasih tau manfaatnya. Terbanglah dengan kebanggaan kalian, “kaum-kaum tua” yang mendambakan respek, sampai-sampai nggak rela disalahkan.

Mungkin kamu akan menyesal aku pernah menulis seperti ini waktu dulu. Mungkin kamu sekarang menjadi orang tua yang memiliki sifat yang sangat kubenci dulu. Apabila kamu benar-benar demikian, ketahuilah, aku dari masa lalu, sekarang, menampar kamu sekeras-kerasnya. Kamu tahu, dulu kamu pernah mencari asal mula dari sajak, “Beware the fury of a patient man”? Ya, dan sekarang kamu berhadap dengan hal tersebut. I will make the rest of your life suffer. Aku bakal menghantui kamu ketika siang dalam sadarmu dan malam dalam tidurmu. Sesuatu yang sangat kamu perjuangkan, sesuatu yang sangat kamu pengen ubah, kamu lepaskan begitu saja. Sebegitu lemahnya kah, pendirian kamu? Kemana jiwa anti-senioritas kamu yang dulu kamu sering bilang, “Adik-adik kelas gw nggak boleh ngerasain hal-hal buruk yang sama kayak yang gw rasain”, yang kalau ditranslasikan, “Anak-anak gw nggak boleh ngerasain hal-hal buruk yang sama kayak yang gw rasain”? Udah, itu aja. Kalau misalnya kamu sekarang adalah orang yang demikian, kamu mungkin nggak perlu baca sisa dari surat ini. Kamu mungkin bakal nangis karena ternyata aku di masa lalu sebegitu lugunya berharap kamu menjadi orang yang menjadi pohon bagi orang lain, bukannya bencana. But I guess, people can change, and so do you. Aku bakal kasih kamu kesempatan untuk memperbaiki dirimu sendiri, itupun kalau kamu mau.

Siapa yang saat ini membaca? Apakah jiwaku yang berbahagia di masa depan, karena kamu berhasil merealisasikan mimpiku di masa lalu? Ataukah jiwaku yang sedih, karena gagal menjadi orang yang kudambakan di masa lalu? Terlepas dari siapapun itu, selamat membaca harapan-harapanku di masa lalu, jiwaku di masa depan.

Untuk diriku, di masa depan. Aku berharap kamu adalah orang yang toleran. Bisa memposisikan diri di posisi orang lain. Rasakan, bagaimana kira-kira kalau jadi mereka. Aku yakin kamu cukup ingat waktu kamu dulu kuliah, Papa dan Mama kamu sering minta kamu ke Jakarta. Semoga kamu masih mendoakan mereka saat ini, sebagaimana kamu sering mendoakan mereka ketika dulu. Mungkin kamu di masa dulu sering malas pulang, karena perjalanan di jalan lama, Jakarta panas, macet, dan alasan-alasan lain. Tetapi, kalau kamu menempatkan diri di posisi mereka, kamu akan ngerasain kamu ingin ketemu orang yang telah kamu besarkan selama 18-22 tahun (hampir 23 tahun, kalau termasuk ketika masih di dalam perut Mama). Itu rasa kangen mereka terhadap kamu, jangan kamu salahkan. Aku yakin ketika kamu memiliki anak yang sudah besar nanti dan ia merantau, kamu akan merasakan hal yang sama. Hari-harimu di rumah tanpa melihatnya, kamarnya yang biasanya ketika kamu masuk ada sosok bahagia anakmu, kini kosong, hanya tersisa baju-bajunya, kasurnya, dan mejanya. Walaupun begitu, jangan terlalu mengikat anakmu. Biarkan ia mencari petualangannya sendiri. Berilah dia nasihat, tetapi jangan dipaksa. Biarkan dia yang memilih jalannya sendiri. Aku berharap kamu juga membimbing anakmu sedemikian lamanya dengan baik sehingga ia dapat melihat reason dibalik hal-hal yang terjadi. Aku berharap, dia adalah anak yang visioner. Kamu sudah merasakannya bukan waktu dahulu? Aku mungkin tidak tahu, perusahaan tempat kamu bekerja, eFishery, saat kamu membaca ini, sudah menjadi perusahaan sukses atau (semoga tidak) sebaliknya. Tetapi, deep inside, kamu tahu bahwa banyak hal-hal yang kamu pelajari, banyak hal-hal yang kamu dapatkan dari perusahaan itu yang menyebabkan kamu harus berjuang lebih untuk hal itu, terutama ditopang oleh fakta bahwa industri agrikultur sedang rising saat itu. Kamu membantu sebuah revolusi, yang kata Kak Gibran (CEO saat itu), “Saya ingin membasmi kelaparan”. Itu adalah pilihan kamu, bukan? Walaupun orang tuamu mungkin tidak berpikir hal yang sama.

Untuk diriku, di masa depan. Aku berharap kamu membimbing anak dan istrimu dengan baik. Membimbing anak tidak hanya sesimpel memberikan ia fasilitas-fasilitas yang ia butuhkan lalu menyekolahkannya, lalu in the meantime, kamu sibuk bekerja siang dan malam. Kamu juga perlu sering mengajak ia berdiskusi untuk mengetahui apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Apakah di sekolah ia dibuli? Apakah di sekolah ia kesulitan suatu mata pelajaran? Apakah ia di sekolah sulit mendapatkan teman? Hal-hal itu yang harus kamu address, karena sekolah difokuskan untuk akademik. Tentu saja sekolah juga termasuk pembinaan sifat, tetapi tanpa kontrol dari orang tua, efeknya tidaklah seberapa. Kamu, sebagai orang yang berkontribusi dalam kelahirannya, punya tanggung jawab lebih dibandingkan guru-guru di sekolah untuk membina anakmu sendiri. Selain itu, apabila kamu ingin berdebat dengan istrimu, jangan lakukan hal tersebut didepan anak kalian. Apabila salah satu dari kalian marah, anak kalian akan belajar untuk marah. Anak kalian akan belajar untuk takut. Dari situ, anak kalian akan cenderung takut melakukan kesalahan ketika bersama salah satu dari kalain yang marah sebelumnya, karena ia telah melihat betapa “mengerikannya” amarah salah satu dari kalian. Apabila kamu terlanjur melakukan hal tersebut, segera selesaikan masalah tersebut sebelum anakmu masuk ke kondisi kronis, yaitu tertutup. Ketika seorang anak sudah tertutup, aku cukup yakin, akan sulit untuk mengubah sifat tersebut. Jangan lupa, kamu saat kecil dulu mudah mengingat dan melupakan hal-hal yang nasty dalam kehidupanmu. Hal-hal nasty tersebut, yang akan membuat pribadi anakmu tidak menjadi seperti yang kamu harapkan. Bimbinglah anakmu, jadikanlah ia orang yang terbuka, jadikanlah ia anak yang diidamkan olehmu dan istrimu. Itu untuk anak, lalu tadi aku di awal paragraf menyebut istri. Apakah kamu ingat, hal yang paling menakutkan bagimu ketika membicarakan pernikahan? Kamu sangat takut kalau kamu tidak bisa mengontrol dan mengerti istrimu. Itulah yang kamu takutkan. Dari situ, akan muncul masalah-masalah yang datang dari antah-berantah karena chain of effect dari dua akar tersebut. Aku berharap, orang pilihanmu di masa depan adalah orang yang tepat untukmu. Orang yang dewasa, kritis, dan yang paling utama, beriman, dan dengan imannya itu, ia juga menguatkan imanmu. Untuk dapat mengontrol dan mengerti istrimu, janganlah menggunakan kekerasan. Itu, aku sangat haramkan bagimu. Kamu harus bisa membaca pattern darinya, walaupun kamu di masa lalu pernah mengatakan bahwa wanita tidak memiliki pattern sedemikian sehingga sulit untuk merespon tindakan mereka. Bagaimana cara membaca pattern tersebut? Well, aku juga tidak tahu. Mungkin, kamu dapat melakukannya lebih baik dariku. Aku hanya bisa memberikan nasihat untuk sering mengajak ia berbicara hati ke hati saja. Wanita adalah sesosok makhluk yang butuh curhat, you know that. Jangan biarkan curhatannya menumpuk lalu menjadi amarah. Kamu harus setia menjadi pendamping mereka dalam sedihnya, kalau kamu ingin mendampingi mereka dalam senangnya.

Untuk diriku, di masa depan. Ini adalah hal yang paling penting. Persiapkanlah dirimu untuk hari esok, baik itu hari esok dalam kehidupan sehari-harimu, ataupun untuk kehidupan yang selanjutnya. Jangan tinggalkan agamamu karena kehidupanmu. Kehidupan adalah sesuatu yang melenakan, kamu tahu itu. Kamu harus menghidupi kehidupanmu, istrimu dan anakmu (atau anak-anakmu), tetapi ingatlah, mereka adalah titipan dari Allah. Mereka adalah ujian untukmu. Allah ingin mengetahui, apakah dengan harta-harta, istri, dan anak (atau anak-anak) yang kamu miliki, kamu masih akan mengingat Penciptamu atau tidak. Apabila kamu memiliki masalah, aku harap kamu sering melakukan konseling dengan-Nya, karena ia adalah sebaik-baik tempat mengadu. Jangan lupa turunkan nilai ini ke istri dan anakmu, karena aku yakin, kamu tidak ingin masuk surga hanya sendiri. Kamu ingin berjalan di taman-taman surga bersama istrimu dan anakmu (atau anak-anakmu). Aku harap kamu selalu dalam perlindungannya. Aku mendoakanmu dari masa lalu. Semoga timeline aku dan timeline kamu sama, yaitu di timeline yang menjanjikan kita kebahagiaan dunia dan akhirat.

Untuk diriku, di masa depan. Itu adalah paling tidak, tiga hal yang aku harapkan darimu di masa depan. Aku harap, post ini dapat kamu realisasikan, dan doakan aku juga untuk dapat mengikuti jejakmu dalam merealisasikannya. I wish you all the best.


Epilog

Sekian. Sudah mulai kehabisan kata-kata. Rasanya belum pernah nulis isi hati seperti ini. But, it must be done. Semoga bermanfaat untuk diri saya sendiri, dan untuk kalian-kalian yang membacanya. Apakah post ini kontroversial? Mungkin, tapi semoga kekontroversialan tersebut terus menjaga saya dari hal-hal yang negatif. Sampai jumpa di lain waktu!